Arsip Tag: hutang

Pintar Mengelola Pemasukan

Jika digambarkan, kondisi keuangan tiap orang rata-rata ada pemasukan, dan pos-pos pengeluaran. Aliran uang ibaratnya seperti bak mandi dengan satu keran untuk mengisi air di bak, dan saluran pembuangannya merupakan pos keluar. Pos-pos keluar biasanya meliputi; biaya hidup, cicilan hutang, aksidental, tabungan, gaya hidup dsb. Bayangkan satu aliran kran masuk, mengisi bak, dan secepat itu keluar lewat lubang-lubang penguras. Besar kecilnya lubang penguras sangat mempengaruhi volume air yang tertampung/terkuras.

Semakin banyak air tertampung, maka posisi bak akan aman, artinya sewaktu-waktu dibutuhkan, selalu tersedia air untuk digunakan. Demikian kondisi keuangan kita; yang kita lakukan untuk menjaga kekayaan adalah dengan memastikan air/ Pemasukan yang masuk lebih banyak daripada yang terkuras/ dikeluarkan. Caranya dengan menekan pos pengeluaran atau menambah keran pemasukan. Lebih baik lagi jika Menambah keran pemasukan dan bisa memperkecil lubang pengeluaran.

Jika memang kita hanya mempunyai satu sumber pemasukan, maka harus dilakukan cara untuk memangkas/memperkecil lubang pengeluaran-pengeluaran. Saat ini banyak aplikasi dari ponsel untuk memonitor pengeluaran kita agar tidak bocor tanpa tahu kemana larinya uang kita, tinggal search keyword ” budgeting”, maka akan banyak aplikasi yang bisa dipilih untuk diunduh dan kita gunakan memonitor pengeluaran kita.

Gunakan patokan umum berapa budget untuk pos-pos rutin dan hutang seperti diulas di post Perencanaan Keuangan Pribadi , dan belajarlah tertib untuk menggunakan uang tidak lebih dari budget yang sudah dirancang. Jika perlu, lakukan review mana pos-pos yang tidak urgent, sehingga bisa dihilangkan untuk dibayarkan kepada pos lain yang lebih mendesak. Misalnya pos untuk entertaint/ membiayai gaya hidup bisa dihapus sementara untuk menutup hutang kartu kredit agar kita tidak semakin terbeban bunga tinggi.

Perencanaan Keuangan Pribadi

Berhati-hatilah  dengan pengeluaran-pengeluaran kecil; kebocoran kecil dapat menenggelamkan sebuah kapal besar (Benjamin Franklin)

Saya ingat malam itu, didepan ATM saat saya baru saja menguras seluruh tabungan saya selama 2 tahun dan rencananya akan digunakan untuk membeli mobil, untuk membayar hutang kartu kredit saudara.

Dalam sekejap, seluruh uang saya berpindah dari belasan juta, menjadi 11 ribu rupiah saja (dan itu berlangsung sampai beberapa bulan kedepan sampai mencapai puluhan juta). Saya tak mencadangkan apapun, hanya itu tabungan yang saya punya, dan hanya dalam 2 menit saya menghabiskannya begitu saja. Saya menangis, sedih sekali bahwa apa yang saya tabung dengan susah payah, harus ‘hilang’ begitu saja. Ikhlas? tidak!!, saya tidak ikhlas, namun saya selalu ingat  bahwa saat kita dihadapkan pilihan antara baik dan benar, saya harus memilih yang benar.  Menguras tabungan sendiri untuk diberikan pada orang lain, jelas bukan pilihan yang baik untuk saya dan masa depan, namun itu satu-satunya yang benar, terlepas rela atau tidak rela.

Sampai saat inipun, saya masih berkutat dengan hutang KTA, bukan hutang saya sendiri (malahan sesuangguhnya saya tidak suka berhutang), tapi hutang untuk menutup hutang saudara saya tersebut yang masih tidak terbayangkan besarnya.

Rupanya, masalah hutang ini, bukan hanya menimpa saudara saya, tapi banyak sekali orang-orang lain yang mengalami hal yang sama. Teman-teman kerja saya disinipun banyak yang  terbelit hutang, terutama hutang kartu kredit.

Gencarnya promosi dari kartu kredit, pola konsumtif dan gaya hidup masyarakat, dan kemudahan mendapatkan kredit tanpa agunan adalah godaan tersendiri yang bagi sebagian besar orang ‘sulit ditolak’.

Banyak pula pengguna kartu kredit yang merasa dimudahkan dengan sistem pembayaran minimal tanpa disadari bahwa pembayaran minimal tersebut justru membelit nasabah ke dalam pusaran hutang tiada akhir. Hidup tidak tenang karena harus berurusan dengan debt collector, setiap bulan gaji hanya lewat untuk membayar hutang saja, boro-boro memikirkan tabungan hari tua, untuk bayar hutang yang kian hari kian membengkak saja kadangkala gaji sudah tidak mencukupi.

Karena itulah, perencanaan keuangan sungguh diperlukan. Kadangkala, memang seseorang tidak mengetahui, seberapa besar prosentase dana yang harus dihabiskan untuk konsumsi, untuk tabungan atau untuk berhutang. Apakah gaji anda cukup untuk membeli mobil, kredit gadget terbaru, atau untuk pelesir?

Berikut saya sampaikan hal mendasar tentang pengelolaan keuangan pribadi, anda bisa melakukan financial check up kondisi keuangan anda sendiri.

1. Proporsi Hutang

Tidak boleh melebihi 35% dari pendapatan (banyak juga yang merekomendasikan maks 30%). Perlu diingat bahwa sebaiknya proporsi total hutang konsumtif tidak melebihi 15% dan sisanya 20% digunakan untuk membayar hutang produktif. Jika anda tidak mempunyai hutang dan berencana untuk membeli rumah/ mobil, anda bisa tetap menyisihkan proporsi hutang anda untuk mencicil DP.

Jika gaji anda misalkan sebesar 3.000.000, maka total hutang anda maksimal adalah :

Rp. 3.000.000,- x 35% = maksimal Rp. 1.050.000 ==> hutang konsumtif maksimal Rp. 450.000,- Sisanya Rp. 600.000,- untuk hutang produktif.

2. Asuransi

Minimal 10% dari pendapatan anda. Membeli asuransi ibarat menyediakan payung sebelum hujan, dan anda memberikan perlindungan kepada orang-orang yang anda sayangi disaat tak terduga. Segala tentang asuransi akan dibahas di post tersendiri.

3. Menabung/Investasi

Minimal 10% dari pendapatan.

4. Amal/Charity

Sisihkan sebagian pendapatan anda untuk beramal. Umumnya dikisaran 2.5% – 10%. Anda tidak akan pernah kekurangan dengan berbagi.

5. Konsumsi

Gunakan ‘sisa’ dari pendapatan anda setelah dikurang pos-pos wajib tersebut untuk konsumsi, saya pribadi hanya menggunakan 20% pendapatan saya untuk konsumsi, untuk sisanya saya alokasikan sebagai dana liburan.

Selain pos-pos tersebut, ada pula dana darurat yang hendaknya kita siapkan. Dana darurat adalah dana likuid (sewaktu-waktu bisa dicairkan), yang berguna sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi resiko mendesak yang tidak kita harapkan. Hal-hal tersebut contohnya ; terkena PHK dari perusahaan, perbaikan kendaraan/rumah yang tidak bisa ditunda, dll. Dana cadangan hanya digunakan untuk keadaan yang “MENDESAK” saja.

Besaran dana cadangan hendaknya berkisar 3-6 bulan pengeluaran bulanan anda.

Nah, setelah mengetahui dasar-dasar perencanaan keuangan, anda bisa menilai kondisi keuangan anda, sudah tepatkah perencanaan anda selama ini? Jika belum, sudah saatnya untuk memulai, dari sekarang!