Filipina dan Kecantikan St. Agustin – part 1

Perjalanan kali ini mengunjungi negara bekas jajahan Spanyol, Filipina. Tujuan perjalanan kali ini hanya untuk memuaskan keingintahuan tentang kuliner dan menikmati cantiknya gereja-gereja tua dinegara yang katanya mayoritas penduduknya beragama Katholik itu.

Berbicara soal agama, meski filipina dikatakan merupakan negara mayoritas Katolik, herannya saya malah bertemu beberapa penduduk lokal dari aliran Baptis. Bahkan teman saya tersebut menceritakan bahwa saat ini, tidak banyak pemuda datang ke gereja, dan Gereja-gereja tersebut mulai terlihat kosong karena berkurangnya umat.

Terlepas dari itu semua, saya terdiam haru manakala memasuki Gereja St. Agustin di daerah Intramuros-Manila. Gereja itu begitu Anggun dengan segala kemegahannya. Tampak luar, terlihat hanya seperti benteng tua biasa, begitu memasuki bagian dalam gereja, saya terhanyut oleh keindahannya, dan keheningannya yang mententramkan. Saat itu Jumat pertama, nampak beberapa umat datang berdoa, sebelum misa dimulai. Bahkan saat lonceng dibunyikan, saya tidak melihat banyak umat yang datang. Sungguh sedih, bahwa saat ini gereja didatangi hanya untuk mengakomodir kebutuhan manusia. Bukan berfokus pada kehendak Tuhan.

Mungkinkah Filipina saat ini hanya menjual simbol, tanpa sungguh hidup didalamnya? Ah, meski banyak manusia termasuk saya yang kadang hanya beribadah tanpa sungguh menjalankannya selain hanya kewajiban, tetap saja, ada sedih dihati manakala kewajiban malahan sudah menjadi bukan kewajiban lagi.Image

Summer in Beijing, 2013

Beijing again!

Untuk kedua kalinya menginjakkan kaki ke Beijing, dan pertama kalinya menjadi single traveler.

Beijing di bulan Agustus merupakan musim panas, dimana siangnya terasa lebih lama. Jam 6 sore di Beijing masih terang dan panass…tapi selama saya disana keluyuran siang bolong masih berasa lebih terik di Indonesia.

Beruntung karena kunjungan ini bukan kunjungan pertama, jadi saya sudah mengetahui dan terbiasa dengan rute-rute subway dan cara membeli makanan disana. Mau beli makanan, tinggal tunjuk gambarnya, dan jika perlu bertanya arah, carilah anak2 yang masih belia karena mereka berbicara bahasa Inggris juga.

Kunjungan kali ini, saya juga mencoba memberanikan diri menginap di Hostel di Hotel yang saya tinggali dulu. Hotel ini (Beijing City Central Youth Hostel) menyediakan baik Private room maupun Dormitory room. awalnya saya menginap semalam di Private room dengan rate harga hotel (388 yuan), namun ternyata tidak enak menginap sendirian, dan kemana-mana sendirian. Sepi sekali tak ada teman ngobrol, besoknya saya memutuskan pindah ke Dorm dan tidur sekamar dengan single traveler dari Inggris yang sebenarnya cukup lama tinggal di shezuan sebagai guru bahasa. Mary cukup supel, dan kami sharing cerita semalaman, namun sayang tidak bisa berpergian bareng karena dia harus mengurus perpanjangan visa nya dan berencana ke mongol menemui pacarnya.

Satu-satunya keraguan adalah tentang toilet. Toilet di China terkenal karena kejorokannya, namun daripada kesepian, saya putuskan mencoba saja.  Untuk toilet, ternyata ada toilet jongkok dan duduk, tidak jorok sekali sih, namun ya tetap saja karena saya rewel urusan toilet, saya hanya menggunakan toilet untuk BAK saja.

Karena sakit dan seringnya hujan di Beijing, hanya sedikit tempat yang saya kunjungi. Saya sempatkan mengunjungi wangfujing street yang terkenal karena ekstrim kulinernya. Disana kita akan menemukan binatang-binatang yang tak lazim dimakan seperti lipan, kalajengking, tokek, bintang laut dan mungkin kepompong ulat (jika tidak salah kira). Karena keunikannya, Wangfujing street wajib untuk dikunjungi wisatawan. 

Selain Wangfujing, saya juga melewatkan malam di Night market, tempat yang sebenarnya biasa saja, hanya sebuah jalan dengan banyak pedagang makanan, minuman. Agak bingung juga, apa daya tarik tempat ini sehingga ramai sekali.  Jika Berkunjung ke Beijing, saya sarankan Skip ke tempat lainnya.

Singkat kata, tak banyak yang bisa diceritakan pada kunjungan ke Beijing kali ini, yang mungkin juga menjadi kunjungan terakhir saya di China. Harapan berikutnya adalah bisa berwisata ke Eropa dan merasakan white christmas disana

 

 

 

 

 

Jember Fashion Carnival 2013

Kecil-kecil cabe rawit!
Siapa yang menyangka, kota kecil seperti Jember, yang dulunya bahkan tidak banyak orang yang tahu, Jember itu terletak di bagian mana pulau Jawa, sekarang bisa begitu dikenal karena Kota ini, rutin menggelar karnaval fashion paling spektakuler bahkan di seantero Indonesia.

JFC terkenal karena keunikannya, selain memanjakan para pencinta fotografi dengan fashion yang eye catching dan spektakuler, JFC merupakan salah satu event karnaval terbesar setelah Mardi Grass (New Orleans), Rio De Jeneiro Carnaval (Brazil), and Fastnatch (Koln ). Tak hanya itu, JFC juga menggunakan jalanan sebagai catwalk para modelnya dan merupakan catwalk terpanjang di dunia karena jarak yang ditempuh mencapai 3,6 km (dari alun-alun kota sampai GOR Jember)

Adalah Dynand Fariz, seorang penggagas JFC yang juga seorang fashion designer local. Mulanya JFC diadakan untuk memperingati hari jadi kota Jember dan saat ini rutin diadakan setiap Agustus berdekatan dengan HUT RI. JFC ini setiap tahunnya memperagakan busana trend dunia, tanpa meninggalkan kearifan budaya lokal dan bahkan tiap tahunnya, selalu diperagakan pakaian budaya tradisional yang malah meningkatkan kesadaran kita akan kekayaan budaya Indonesia.

Seiring dengan berjalannya waktu, kemasan JFC semakin hari semakin matang, meski beberapa hal nampaknya perlu dibenahi terutama dari kalangan masyarakat yang nampaknya tidak bisa tertib dan belum siap jika event ini suatu ketika menjadi event internasional.

Tema JFC tahun ini Artechsion ( Art meet Technology and Illusion ) ” dengan 10 tema defile yakni Tibet, Betawi, Bamboo,Artdeco,Octopus, Canvas, Tribe, Spider dan Venice dan melibatkan lebih dari 700 an peserta.

Everything is so huge in china

Ada yang bilang, backpacking adalah tentang membeli pengalaman. Nampaknya, hal itu pulalah yang kami alami selama berwisata ke China. Selama 5 hari kami menjelajahi Beijing dan Chengde, merasakan ritme kehidupan penduduknya, menjajal aneka masakan lokal, bukan hal yang mudah namun yang bisa saya sampaikan adalah bahwa saya merasakan pengalaman baru yang mungkin tidak sepenuhnya menyenangkan, namun tak dipungkiri membuat saya belajar banyak tentang bagaimana beradaptasi dengan berbagai situasi yang kadangkala tak sesuai harapan kita. Travelling ala backpacker sejatinya adalah belajar tentang hidup itu sendiri. Kita keluar dari zona nyaman dan merasakan hidup yang begitu beraneka ragam, kadang pahit, seringpula manisnya. Kita hanya harus membiasakan diri suka atau tidak suka karenakadangkala kita juga tak selalu mendapat yang terbaik.

Beijing merupakan kota yang sangat padat, dengan gedung-gedung pencakar langit. Jika mau dibandingkan, kemacetan di Beijing tidak separah Jakarta yang carut marut. Dan tidak ditemui adanya lapak-lapak pinggir jalan seperti halnya di Indonesia.Dimana-mana, banyak ditemui persewaan sepeda angin, tempat untuk pejalan kaki juga lebar, dan tidak perlu khawatir dengan transportasi umum. Saya berpergian menggunakan subway utuk menjelajah Beijing, selalu penuh, namun tidak sampai tergencet-gecet seperti pengalaman naik TransJakarta dan Bis Lokal di Indonesia yang sempat meresahkan para wanita itu. Subway selalu tiba dengan frekuensi hanya sekitar 2 menitan saja.
Beijing railway station
Hari pertama tiba, kami mengunjungi Beijing Zoo, yang menurut pengamatan saya sebenarnya jauh lebih cantik Batu Secret Zoo untuk ragam binatang dan keadaan kandangnya. Namun, point plus dari tempat wisata di China adalah tempatnya yang sangat luas dengan  banyak pohon yang tertata  rapi dan bersih, ditambah banyaknya tempat untuk sekedar duduk dan melepas penat. Begitu pula dengan Tiananmen Square yang luasnya bisa menyiksa turis yang tidak suka berjalan. Segalanya begitu luas dan lapang di China
DSCF2885

Karena jauhnya jarak dan alasan kepraktisan, esoknya kami memutuskan untuk mengikuti City Tour menuju ke Ming Thombs dan Great Wall. Setiap wisatawan mungkin mengerti apa itu Great Wall dan Ming thomb, dan penjelasan panjang dan lebarnya tentang Great Wall akan dilanjut di episode nanti yaa. Point yang perlu dicatat adalah bahwa pemerintah China sana betul-betul menjaga nilai-nilai sejarah dan sekaligus menjadikannya sebagai ikon wisata (hem, jadi terasa seperti di Bali). Menaiki Great wall, kami menggunakan Cable Car dan turun menggunakan Toboggan dengan biaya 80 RMB (sekitar Rp. 120 ribu), lumayan mahal tapi sepadan. Satu hal yang mengecewakan, hindari sebisa mungkin menggunakan Tour Service, karena anda hanya akan menghabiskan waktu dengan mengunjungi tempat komersial. Dari tour sehari tersebut, kami hanya mengunjungi 2 tempat (Ming Thomb dan Great Wall) sisanya 2 tempat lainnya kami ‘dipaksa’ untuk mengunjugi Pabrik Jade dan Tempat pejualan Teh.
great wall

Makanan di Beijing
Selain porsinya yang besaaar, makanan disana bagi lidah Indonesia seperti saya terasa terlalu asin dan tidak berempah dan berasa khas, mungkin ada tambahan bumbu minyak wijen terlalu banyak. Saya tetap cinta chinese food a la Indonesia.
makanan di Beijing

Orang-orang di Beijing
Rata-rata berbicara keras. Bagi yang pernah mengalami pengalaman dijudesin pegawai tiketing kereta atau reseptionis hotel dan pelayanan publik lainnya (pengalaman pribadi), tentu hal itu tidak bisa digeneralisasi. Kami sendiri telah banyak ditolong saat menanyakan jalan baik pada para polisi(yang tidak bisa berbahasa Inggris), pada ibu-ibu keren di subway, maupun Nona cantik pegawai kereta. Yah, orang-orangnya sama saja kok dengan di Indonesia, tergantung karakter per person.

Diantara beberapa negara yang saya kunjungi, China adalah yang paling spektakuler untuk ukuran luasnya dan keindahan alam dan bangunan-bangunannya. Definitely, i’ll be back there, soon…

Hotel Budget Kuala Lumpur

Kuala Lumpur, Bukit bintang
Bukit bintang dikenal sebagai surganya backpacker, selain banyaknya hotel budget, sepanjang jalan kita juga akan menjumpai aneka resto yang menyajikan kuliner dengan harga terjangkau. Mulai dari thailand, malaysia, seafood ataupun chinese food,mulai snack sampai buah-buahan, tinggal pilih saja.

Tempat favorit saya untuk bermalam adalah di jalan Alor, selain sepanjang jalan full oleh restoran, di jalan Alor juga tidak saya jumpai panti2 pijat yang banyak bertebaran di sekitarnya.

Berikut hotel yang pernah saya singgahi disana:
1. Budget inn
Hostel ini punya 3 cabang dimana kadangkala kita akan dioper ke hotel satunya jika kamar yang kita pesan tidak tersedia. pertama menginap saya dioper ke hostel satunya (masih dijalan Alor). lokasi hostel yang saya tinggali terlihat agak kumuh karena berada di kompleks ruko yang mirip2 pasar, dan diatas hotel kami ada salon yang menjemur pakaian/handuk2 salon, menambah kesan amburadul.
Terlepas dari lingkungan sekitarnya yg kumuh, hostel ini ternyata bersih dan cukup layak untuk ditinggali. fasilitas hostel yg termurah waktu itu berupa air panas, AC, dispenser gratis untuk dipakai umum.
point minus adalah tidak tersedianya TV, dan toilet yang sangat sempit. harga berkisar IDR 250.000 an
2. Alor street Hotel
Masih dijalan Alor, saya tertarik menginap di hotel ini karena melihat lingkungan hotel yang cukup rapi dan tidak kumuh. Pintu hotel berupa kaca dan kelihatannya didalam cukup minimalis.didepan hotel ada carport yang bersih, biasanya jika sore hari difungsikan untuk menampung tamu restoran.Meski begitu, pagi harinya tempat itu akan bersih kembali dan kursi2 sudah dipindahkan.Fasilitas hotel berupa airpanas (yang tidak panas), TV dengan chanel internasional, dan toilet dalam yang ternyata cukup luas. Point minus, kebersihan kurang. saya menemukan 2 kecoa kecil dikamar, dan pinggiran toilet yang berkerak menunjukkan jarang dibersihkan. harga berkisar IDR 220.000 an

Hotel budget singapura

A beary good hostel cukup dikenal dikalangan Backpacker. Terdapat beberapa hostel yang tersebar di berbagai daerah di Singapura. Saya bertiga dengan teman saya memilih daerah di Chinatown dengan pertimbangan bahwa daerah Chinatown dekat dengan sentra makanan yang katanya murah meriah, disamping lokasi hostel yang sangat dekat dengan Stasiun MRT.

Kami mengambil kamar dormitory yang mampu menampung 10 orang tamu (mix lelaki-perempuan) dengan kamar mandi bersama. Di tempat ini kita benar-benar diminta melayani diri sendiri mulai dari merapikan tempat tidur atau mencuci piring sendiri. Fasilitas hostel berupa kamar mandi umum dengan air panas, Free Wifi, dan breakfast berupa roti selai/ panggang, kopi, coklat atau teh yang bisa kita ambil sesukanya (tentu saja dibuat sendiri dan sehabis itu dicuci sendiri piring bekas makan/minumnya). Saya sendiri tidak berkeberatan dengan hal tersebut dan senang berasa dirumah sendiri.

Point minusnya, karena kita menggunakan kamar mandi umum yang digunakan banyak orang dengan gaya yang berbeda, maka kebersihannya pun tak bisa selalu terjaga. Selama menginap dua malam disana,. Saya dengan setengah muneg selalu membersihkan kamar mandi bekas turis perempuan gemuk asal Amerika yang selalu meninggalkan bau pesing (karena tidak buang air di toilet), demi kenyamanan saya sendiri dan paling penting supaya orang-orang tidak berpikir bahwa kami turis Indonesia biang keroknya. Harga permalam di A Beary Good Hostel adalah SGD 27/ malam untuk weekdays. Harga yang cukup murah dengan lokasi yang strategis.