Arsip Kategori: My Thought

Kondom menyelamatkan..!

Foto ini kudapatkan dari facebook, sengaja kusimpan dan kushare di blog ini untuk berbagi kesadaran bagi para penikmat seks yang hobinya tebar benih tapi gak mau panen (u know what i mean la yaa.. )

Satu kali pernah temen dekatku (yg adalah asisten RT), nunjukin hasil test lab, dan sampai saat ini udah 20 tahun lewat aku masih mengingat saat aku duduk di ranjang susun bersama dia, mendengarkannya curhat sembari nangis. Dia masih remaja belasan tahun, dipaksa melakukan seks, dan saat hamil disuruh menggugurkan karena yg punya benih nggak mau tanggung jawab. Beberapa minggu kemudian waktu pulang rumah, aku bertemu dia dalam keadaan amburadul dan mata bengkak akibat nangis banyak-banyak. Kami nggak sempat ngobrol krn dia harus pergi kesuatu tempat, kurasa tempat aborsi. Itu pertemuan terakhir kami, dan aku terus bertanya-tanya bagaimana nasibnya sekarang. Sudah cukup jelas bagiku bahwa dia melakukan aborsi karena tekanan, karena papa sempat cerita bahwa beliau menolak saat diminta menunjukkan tempat untuk menggugurkan kandungan oleh pihak lelakinya.

Dan ini kejadian ga cuma sekali, beberapa kali setelahnya aku masih menerima curhatan yg sama walau dari wanita yg berbeda.

Aku heran, malahan ada wanita yg berkali- kali aborsi dengan lelaki yang sama padahal sejak pertama hamil itu cowok ga mau tanggung jawab. Kok mau-maunya mengulang kisah yang sama, hamil, si cowok kabur, datang lagi saat si cewek perutnya dah kosong, hamil lagi, terus aborsi lagi 😩

Mas mbak, aborsi itu kata lain dari pembunuhan. Kalau kalian keukeh bicara dan mempraktikkan agama, coba kalian pikir lagi ya kata-kataku:

Nggak beribadah aja bisa masuk neraka. Makan haram aja bisa masuk neraka, sulitkah mengerti bahwa kalo TIDAK MELAKUKAN ajaran agama saja bisa buka pintu neraka, atau hanya SEKEDAR MAKANan aja bisa ngantar kelian ke neraka, apalagi tangan yg membunuh/ berlumuran darah janin…??? Pasti autoneraka kalian. Masak lebih berat dosa absen ibadah, atau dosa akibat makan daripada dosa mbunuh, tak iye? Itu logikaku sih, menyesuaikan dgn perspektif yg kemarin curhat.

Aku sendiri nulis begini karena kesel. Ada janin mati sia-sia dan aku ga bisa apa-apa. Aku ga ngomong dosa, surga, atau neraka, sudah bukan hobiku karena aku juga ga tau mampir kesana, jd aku ga akan sok bergaya punya kapling dikedua tempat itu. Aku bicara bakal manusia yang mestinya punya hak hidup, tapi dimusnahkan tanpa ada rasa sesal.

Mbok yao, kalo demen kelon, demen tabur benih dimana aja, tapi ga mau kena imbasnya (punya anak) ya pake pengaman. Selain meminimalkan resiko penyakit menular seksual (ingat ya, asal celup itu resikonya gede mulai sakit ringan2 macam kutuan sampe HIV-AIDS), pake kondom juga mencegah kehamilan (kecuali kondomnya lu bocorin). You happy, pasanganmu happy, pabrik kondom juga happy. Ga pake stress mikir hamil nggaknya, bakal dinikah apa nggak, atau mau diapain calon bayi diperut. Kalo moral susah dirubah, setidaknya belajar sedikit tanggung jawab sama diri sendiri. Kondom bisa jadi penyelamat dari resiko akibat gaya hidup bebas, TERUTAMA penyelamat dari matinya janin-janin yang nggak kamu inginkan dan mencegahmu menjadi pembunuh. Tanggung jawab paling simple dan murah kan…?

Gitu ya, maap banget bahasaku asal njeplak. Terang benderang biar yang bolotpuun bisa nelen tanpa susah mencernanya. Jangan lagi ada curhatan model begini, krn sikapku udah jelas yaa… Kalo you sampe hamil jangan galau atau kaget selama sadar udah melakukannya tanpa pengaman.. Kecuali makmedungdung tapi ga merasa pernah melakukan, boleh deh galau dan bingung.

 

 

* curhat dan saran perkondoman ini ga ada kaitannya dgn ajaran katolikku. As catholic, aku percaya koneksi seksual benar dan suci jika dilakukan setelah pernikahan dan kehidupan baru tidak seharusnya dihalangi walau dengan kondom sekalipun.

FB_IMG_1545670606733

Yuk, temukan Cheese mu

Inget banget dapat materi ini pas training waktu masih kerja di jakarta. Lumayan mencerahkan, sampai akhirnya aq memutuskan resign dan pindah karena ‘ cheese ‘ yang lama sudah habis.

Maunya dulu tetep dikota besar krn kadung cinta gemerlap kota yang ga pernah tidur.
Namun perubahan dan kebutuhan kadang ga kenal kompromi. Mau tidak mau, suka tidak suka, perubahan selalu terjadi kan? Pas kepepet, miskin; ditawari ipar kerjaan, kuterima aja kerja di jombang, kota kecil yang toko pada tutup jam 7 /8 malem. Lha kok iya, justru disinilah aku nemu cheese ku. Cheese dengan C BESAR. Disini titik awal aku mulai menemukan tujuan dan impian yang harus dikejar, yang harus diwujudkan selagi hidup. Gaji kecil, tapi impian besar, dan satu2 bisa terwujud secara ajaib (dengan cara lurus tentunya ya).

Ketika memutuskan resign untuk urus anakpun, aku sudah memperkirakan hal ini pasti terjadi, jd tidak ada penyesalan. Itu artinya perubahan terjadi lagi, aku harus fokus pada cheese yang baru. Membesarkan dan mengasuh anak sendiri adalah pekerjaan mulia, ya kan?

Meski begitu, aku tetap punya mimpi untuk memberi sumbangsih bagi keluarga, juga memberi diriku kesempatan untuk tetap mengaktualisasi diri dan berpenghasilan meski hanya lewat rumah disambi bermain dengan buah hati. Ini cheese yang baru. Tidak mudah tentunya, aku terasa mirip seperti haw yang kuatir tapi sadar, bahwa bergerak itu lebih baik daripada hanya sibuk berpikir dan ketakutan.

Melihat hidupku sekarang, kadang aku berpikir, coba jika dulu aku tidak mau merubah hidupku…??coba kalo dulu nolak ditawari kerja, (hanya karena aku ga suka, gajinya kecil, kotanya aku ga kenal), padahal aku BUTUH ?Coba kalo cuma diam ditempat seperti Hem yang merutuki nasib yg kejam padanya.
Mungkin aku ga ada disini sekarang, ga sempat melihat dunia luar yang kuidamkan, ga bisa beli barang kesukaan, ga bisa membantu membiayai saudara (dan saudara), dan ga bisa sedikit nyimpen2 untuk investasi masa tua..

Ternyata dari pengalaman masa lalu itu ada pelajaran penting yg dipetik. Asal bergerak dan fokus, hanya masalah waktu untuk sampai pada cheese station yang baru. Aku sudah berkali- kali membuktikannya dan akan terbukti juga nantinya seperti yang kemarin2.

Perubahan itu abadi sepanjang kita hidup, dan dia ga akan nawar nunggu kita siap. Jadi, siapkan diri yaa.. Kalo ada peluang didepan, ambillah dulu dan bergeraklah. Siapa tahu, justru itulah jalan menemukan cheese mu.

Ada apa dengan Negeri ini…?

Mungkin karena hamil, mungkin juga karena sudah menjadi ibu, pagi ini melihat foto jasad sikecil intan marbun tertutup kain dan dikelilingi para dewasa yang bersedih, aku ikutan nangis tersengguk-sengguk tak terbendung..gadis kecil yang manis itu harus mati begitu saja karena lemparan molotov bom oknum ‘pembela agama’.

Betapa dunia yang harusnya kita jaga, demi anak kita mendapatkan keriaan masa kecilnya, telah berubah menjadi ladang penuh ranjau, yang ditanam oleh prasangka, kebencian yang terus menerus dipupuk.

Lihatlah tiap hari berita kebencian terus bersliweran, kita posting di media sosial, tanpa saringan, tanpa perlu ditelaah gunanya. Tak peduli siapapun bisa mengaksesnya; anak-anak, dewasa, pendidikan maupun tidak pendidikan. Dan sekejap saja semua orang tak ahli pun bisa menjadi hakim dengan pemikiran dan egonya-yang kadang tak sesuai realitas. Siapapun juga, tak kenal lulusan SD sampai Magister, menjadi sama pinternya dalam menyebar kebencian yang katanya pembelaan atas agama, padahal atas egonya sendiri.

Negeri ini juga sudah dipisahkan dengan kafir non kafir, politik pro anu dan inu, sampai tak tahu cara untuk legowo dan membangun bersama. Cepat tersulut amarah, lambat mengasihi. Suka menuding, tapi tak pernah berkaca. Sibuk bertengkar seperti bangsa barbar, lupa ada generasi dibawah kita yang menonton dan akan menjadi penerus watak dan adab kita.

Aku sudah bersepakat dengan diriku, untuk menciptakan dunia yang indah bagi masa kecil anakku. Tidak ingin mengulang masa kecilku padanya, dimana kami minoritas selalu diolok dan diludahi. Aku sudah melepaskan dendam, karena dunia tak akan lebih baik dengan dendam yg kuwariskan. Sudah cukup itu semua, sekarang saatnya mengajarkannya hidup rukun berdampingan dengan saudaranya yang cina, sunda, saudaranya yang poso, toraja, yang kristen dan yg muslim.

Aku, kamu, kalian semua punya andil dalam menciptakan kedamaian atau kerusuhan dengan menggulung opini publik, dan menggalang aksi pro anu dan inu tadi. Jika masih ingin memenangkan ego dan ingin indonesia terbelah, porak poranda, teruskan saja menumpuk rasa benci seperti jerami diatas bara api. Mungkin kau berpikir tak apa jika negaramu sendiri rusuh kau kacau, kau benci, dan saudaramu kau musuhi. Yang penting kau (yang kau pikir benar), menang.

Namun jika kau peduli masa depan bangsamu sendiri, tempat kau bernaung sedari kecil, mencari nafkah, menghidupi keluarga dan menjalin rasa persaudaraan, hentikan semua postingan jahat dan provokasimu. Pikirkan baik-baik apa yang akan kau posting, apa yang akan kau ajarkan pada para balitamu dirumah, ditempat ibadah, karena nantinya merekalah yang akan menjadi aset yang membangun, atau mesin penghancur dinegara yang bhineka ini.

Jika kita sepakat Allah adalah hakim yang adil, maha melihat, mampu menghidupkan dan mengambil nyawa kapanpun Dia mau, apa pentingnya bagimu menumpahkan darah orang lain ? Toh jika Dia mau, sekejap mata para penghinaNya bisa mati disapu tsunami, dihantam banjir, atau disambar geledek. Mengapa kau harus bersusah-susah menjadi alatNya untuk membunuhi sesamamu, dengan menjadi allah atas nyawa orang lain?

Atau sebenarnya bukan Allah mau begitu, tapi kamu yang haus akan Kuasa menjadi seperti Allah. Dosa tertua yang tak lekang waktu dan masih laris dijual iblis pada manusia.

Damailah disana Intan, dimana tak ada lagi benci dan permusuhan.

Sekedar catatan bagi yang ga bakat jualan..

Pas nawari ikutan bisnis oriflame, banyak sekali macam alasan yang biasa kita dengar. Kalo ga minat sih, wajarlah yaa, tiap orang punya goal dan passionnya sendiri. Tapi ada juga yang bilang ‘ aku ga bakat jualan’ atau ‘aku ga jodoh di MLM, udah coba berkali-kali’.

Bicara soal bakat, ada iklan nike yang dulu pernah kuposting, ‘ is talent all it takes? ‘ Btw, itu iklan mewakili banget. Bakat tanpa dikembangkan ya hasilnya nol besar. Darimana kita tahu kita nggak berbakat kalo ga pernah diasah? Diperlukan kerja keras, konsitensi, dan niat untuk bisa sukses, termasuk bakat jualan.

Orang tidak tiba-tiba fasih bicara motivasi didepan ribuan orang, kalo nggak belajar dulu nyusun kalimat, artikulasi, body language, dsb. Para olahragawan tenar itu, mereka mulai lebih dini lagi malahan. Warren buffet bapak saham yang terkenal itu juga menegaskan, bahkan jika kita sangat berbakat dan punya segala sumber daya yang memungkinkan, tetap butuh proses, butuh waktu untuk memperoleh hasilnya.

Nah masalahnya, berapa lama waktu yang kita coba sampai akhirnya menjadi hakim atas diri sendiri,  memvonis diri bahwa kita ini tidak berbakat ? Apa saja usaha yang sudah dilakukan, sampai kemudian kita menyerah?

Di oriflame Kita udah diberi segala fasilitas untuk jualan tanpa repot. Ada katalog yang sudah didesain cantik, tim mereka yang pusing membuat desain agar tampak memikat, kita mah tinggal sebar saja.
udah ada product knowledge, kita tinggal pelajari. Tinggal tempel jualan kita di PP (no BC), tinggal share status dari page resmi oriflame, udah gitu aja.

Langkah berikutnya, tawarkan ke temen kalo kita liat dia ada problem; kegemukan tawarin nutrishake, flek item, atau kusam tawarin optimals. Ga usah maksa2in nawari produk. Kalo dia ga butuh, beli terpaksa, kita ga kasih manfaat untuk orang, malahan ga berkah ini kerjaan nanti ya.

Tujuan kita nawarin produk adalah membantu dia memecahkan problem, jadi jangan mikir untung di kita, dianya malah ga dapat manfaat. Maka itu, dilarang maksa yaa…fokus on people, not only the sales.

Kalo masalah jodoh, aku itu termasuk percaya kalo jodoh pun sebenarnya perlu diusahakan. Ketemu pujaan hati, kalo sama-sama malu ya ga jadi juga dong…?atau sudah jodoh tapi ga mau kasih afection, ya nanti juga ga jodoh. Jodohnya berakhir. Kerja disini juga gitu, coba diperiksa lagi, seberapa konsisten kita ngerjain bisnis ini? Lain kalo jadi karyawan, kita mood gak mood tetep digaji ya, walopun itu artinya kita makan gaji butaa :-(

Disini kalo ga kerja, ga usaha ya kita ga dibayar dong, artinya bisnis ini justru lebih mendidik kita untuk jujur, tanggung jawab sama kerjaan. Tanggung jawab memaksimalkan potensi. Kalo mau mengasah kemampuan untuk survive, menjadi tangguh, bekerjalah ditempat dimana kita tidak digaji, salah satunya ya di MLM.

Balik lagi ke soal jodoh, kalo pas GA SEMANGAT, jadi MALES PROSPEK, MALES JUALAN, trus jebulnya GA ADA OMZET, SALAH SIAPAA coba? Salah jokowi? Ups, atau salah MLM nya? Ga mau salahin diri sendiri, Makanya masih aja nyalahin bakat, nyalahin jodoh?

Stop menyalahkan yang lain-lain, berpaling sama diri sendiri, udah cukupkah yang kita lakukan untuk memperbaiki diri? JangAn mengecilkan diri sendiri ya, kita ini lebih dari yang kita bayangkan.

Yuk pacu diri jadi lebih baik lagi…belajar itu mestinya seumur hidup ya..

Maafkan, dan Lupakan!

“Mengampuni adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan diri kita dari luka hati.”
Adakalanya kita mengalami sakit hati terhadap orang-orang disekitar kita. Entah ditipu sahabat, dikhianati pacar atau suami, dibohongi berkali-kali, dihina,perlakuan kejam dari orang yang seharusnya menjaga kita, dan begitu banyak hal lain yang dapat melukai hati kita.

Biasanya, semakin dekat relasi kita dengan orang tersebut, semakin kuat rasa sakit itu menghancurkan kita. Ya, kita hancur karena kita telah mempercayai mereka seakan mereka adalah bagian diri kita sendiri. Ya, karena mereka adalah orang terakhir yang kita harapkan akan meninggalkan kita dibanding orang lain. dan Ya, karena kita tak pernah menyangka harapan indah dan pikiran baik kita tentang mereka akan berbuah luka.

Ketika luka itu telah tertoreh begitu dalam di hati, reaksi yang mungkin kita lakukan untuk mengatasinya adalah membenci mereka. Wajarkah hal ini? Oh ya, sebagai manusia biasa, kita mempunyai kewajaran untuk marah. Saat marah, kita menjadi sensitif manakala ada orang lain menyebut nama mereka, Detak jantung kita berdegup keras, muka memerah, dan rasa benci tiba-tiba menjerat kuat dan menghantui sepanjang waktu.

Rasa benci dan marah merusak mood, menghancurkan semangat hidup, membuat air muka kita tidak bersinar, menghantui kita dalam malam-malam seharusnya kita tertidur nyenyak, membuat tubuh kita kurang tidur dan kurang makan yang berujung pada menyakiti diri,dan akhirnya menggerogoti pikiran dan menjadikan kita keras hati.

Betul kawan, membenci dan marah itu wajar bagi manusia. Namun dengan membenci, sebenarnya kita sedang menghancurkan diri kita sendiri.

Jika tidak membenci, reaksi lain yang mungkin kita lakukan adalah bersikap defensif. Kita menghindari berhubungan atau bertemu orang tersebut, bahkan seringnya kita menganggap ia tidak ada di sekitar kita.

Jika kemarahan dan rasa benci membuat kita keras hati, ketidak pedulian membuat hati kita menjadi dingin. Hati yang dingin seperti luka yang dianestesi sementara atau seperti jerawat bandel yang hanya ditutupi concealer. Begitu efek anestesi reda, luka itu masih ada disana dan terasa menyakitkan. Begitu muka kita dicuci, jerawat itu juga masih saja ada. Orang biasa menyebutnya ‘menipu diri sendiri’.

Yang paling sering kita abaikan adalah bahwa apa yang kita perbuat bisa membuat suasana dan lingkungan pergaulan kita menjadi tidak nyaman lagi. Jalinan keakraban menghilang dan itu akan menyebabkan kita semakin kesepian, dan tentunya masih saja sakit!!

Jelaslah dengan membenci dan berpura-pura tidak peduli tidak akan menyembuhkan rasa sakit kita. Lalu, apa sebenarnya yang mampu mengusir sakit yang kita rasakan ini?

Hal paling sederhana, anggaplah kalau kita mencintai diri kita sendiri,jawaban yang paling mungkin adalah memaafkan.

Maaf bukan hal yang mudah dilakukan jika dibandingkan membenci dan marah, namun mempunyai efek menyembuhkan daripada merusak. Dengan maaf, kita membuka jalinan silahturahmi yang terputus, menyehatkan badan karena emosi negatif telah kita usir, memaklumi bahwa kita manusia juga acapkali melakukan salah, yang lebih besar lagi bahwa Tuhan sedang mendidik kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf seperti Dia. Rupanya Dia hendak mengajarkan (menurut saya lho) bahwa kalau kita berjalan seturut jalanNYa, kita pasti sembuh. Bukankah Dia adalah Cinta? tentu kita juga harus juga menanam cinta, maka kita selamat.

Bolehlah kita marah, namun jangan membuatnya berbuah kebencian. Janganlah kita terus memanen buah-buah kebencian itu, karena itu cuma akan menyakiti kita sendiri, terlebih mendatangkan dosa dan kejahatan.

Mari belajar memaafkan dan melupakan, agar Ruh Sang Cinta tinggal dalam hati kita. Jika sulit memaafkan, mintalah rahmat agar kita dimampukan. Percayalah, Dia pasti membantu karena Ia ingin merangkul kita dalam kebaikan dan Cinta. Maafkan orang lain, maka Dia juga akan memaafkan dosa-dosa kita yang sebenarnya tidak terhitung banyaknya dibanding dosa orang yang melukai kita sekali dua itu.

Saya pernah membaca satu ungkapan(maaf, lupa sumbernya) bahwa “Kesalahan itu manusiawi, namun memaafkan itu Ilahi.”
Nah sobat, mari berdamai dengan diri sendiri. Maafkan kesalahan dan Lupakan. Tidak inginkah kita sembuh dan tinggal dalam cinta, selamanya?

Menghitung Usia Kehamilan

Dari dulu mesti berpikir kalo usia kehamilan itu dihitung berapa lama dari masa konsepsi / pembuahan. Ternyata baru tahu ketika periksa kandungan dan di USG dokter bilang kalo kehamilanku sudah 6 minggu, padahal 6 minggu sebelumnya itu aku mendapat haid.

Menghitung usia kehamilan itu dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) dan masa kehamilan biasanya 40 minggu. Jadi saat wanita sudah terlambat haid satu minggu, umur kandungan sesuai perhitungan dokter bisa jadi 5 minggu usia kehamilan.

Kalo dari perhitungan begitu, bisa jadi pasangan yang baru nikah sebulan dan langsung hamil, usia kandungannya lebih dari usia pernikahan dong ya?
Misalkan katakanlan si Anu haid hari pertama tanggal 1 januari, nikahnya tanggal 15 januari, dan langsung hamil, maka usia kandungannya bisa mencapai 4 minggu saat jadwal mens berikutnya jika dia belum mendapat haid meski usia pernikahan baru 2 minggu.

7 Hal yang ingin kulakukan sebelum Mati

Bangun pagi-pagi, bekerja, pulang malam, lalu tidur. Bayangkan jika hal itu terjadi terus setiap hari 5 hari seminggu, dengan libur Sabtu Minggu yang kebanyakan buat bersih-bersih rumah atau sedikit jalan-jalan ke Mall. Everyday we do the same numbing routine, berlaku sampai 20 tahun, atau 30 tahun dari sekarang.

Semakin lama kupikir, “inikah yang akan kulakukan tanpa jeda sampai masa pensiun demi mencukupi biaya makan dan tempat tinggal?” Apakah tugasku didunia cuma lahir, hidup, trus mati tanpa ada kenangan apapun selain melakukan pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran tanpa kita sempat bernafas sejenak untuk menikmatinya? 

Well, kita semua butuh pekerjaan untuk makan, tapi kupikir pasti ada cara untuk melakukan yang kita sukai tanpa mengorbankan momen yang kita impikan dan seharusnya kita lalui. Seperti yang ditulis Robert Kiyosaki, aku ingin lolos dari balap tikus kehidupan. Aku ingin mengerjakan hal-hal yang kusukai tanpa khawatir kekurangan tidak terbatas materi, tapi juga momen dan kesenangan dalam hidup. Life should be jubilant, right?

Aku membuat rencana keuangan untuk jangka panjang (tanpa mengencangkan ikat pinggang, yang berujung pada kepelitan), berinteraksi dengan banyak orang sebisa mungkin, mengasah kemampuan dan kepribadian demi tercapainya mimpi-mimpi yang sudah menggelayut berat menunggu waktu untuk realisasi.

Terlepas dari rencana pensiun dini diatas dan prolog pembuka yang panjang plus mungkin juga nggak nyambung, inilah mimpi-mimpi yang semoga bisa kulakukan sebelum mati nanti;

Prioritas utama dimulai dari point teratas.

1. Menikah 😀

Cantik, berwawasan, punya pekerjaan, bisa masak, dan yang penting; ada yang mau 😀 Orang selalu bertanya kenapa aku belum menikah padahal usia sudah kepala 3?  Sejujur-jujurnya, aku ga pengen nikah, tapi pengeen buangeett.  Saat ini masih mencari cara untuk lepas dari phobia pernikahan. Aku juga suka anak-anak dan berharap nanti ada tawa lucu dan petualangan bersama mereka untuk melengkapi hidupku. Tentu juga akan menyenangkan ada teman hidup untuk berbagi cerita

2. Melihat Dunia

Aku ingin menjelajahi dunia, melihat maha karya Tuhan, menjelajahi gunung, laut, danau, melihat bangunan saksi peradaban manusia, mengenal orang-orang baru, mempelajari kultur dan bahasa dari berbagai belahan dunia. Aku tertarik pada manusia, bagaimana mereka berinteraksi dengan sesamanya dengan tata cara yang berbeda dengan yang kita lakukan.

3. Menjadi sukarelawan

HIdup tidak seharusnya melulu melakukan transaksi/pertukaran. Bekerja untuk dibayar, semakin tinggi skill, semakin besar kau dibayar. Ya, aku melatih kemampuanku setiap kali ada kesempatan, tapi lebih dari itu, aku berharap suatu ketika bisa memberi tanpa dibayar selain untuk alasan berbagi dan membantu orang lain.

4. Menjadi pendamping anak-anak muda/remaja

Generasi muda adalah generasi yang rentan diprovokasi hal-hal negatif entah berupa kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas, kekerasan, dsb. Masih segar berita tentang pembunuhan Ade Sara, seorang remaja 19 tahun yang dibunuh teman sekolahnya sendiri, dan fenomena cabe-cabean yang lagi ngetop belakangan ini.

Well, akupun dulunya bukan termasuk pribadi yang alim, namun sukses melaluinya walau dengan sedikit cacat dan kenakalan(bersyukur mampu melewatinya dan belajar banyak dari sana).
Sama kuatnya dengan hal-hal negatif yang meracuni mereka, aku percaya hal-hal positif juga bisa kita tularkan pada mereka sebelum mereka mengulangi kesalahan generasi terdahulu tanpa memposisikan diri sebagai ‘guru’.

5. Aktif dalam kehidupan menggereja.

Lebih 10 tahun menjadi seorang beragama, aku tidak pernah bisa aktif dalam lingkungan kerohanian diluar hari Minggu karena hidupku yang selalu nomaden dan bekerja sepanjang waktu. Dalam jangka pendek, aku ingin menetap, punya tempat tinggal permanen, sehingga bisa mendaftar masuk dan aktif dalam lingkungan/komunitas di gereja. 

6. Memelihara Anjing & Kucing

Siapa bilang anjing dan kucing tidak bisa rukun? Mopi dan Meow dirumahku malahan tidur bersama. Seperti halnya manusia yang berbeda bahasa dan budaya, anjing dan kucing pun seringkali ‘salah paham’ dalam berinteraksi karena bahasa tubuh mereka berbeda. Namun sama seperti pernikahan, memelihara peliharaan itu butuh komitmen jangka panjang.

7. Tinggal di pedalaman

Agak aneh, tapi aku selalu iri dengan orang-orang yang hidupnya lepas dari keterikatan canggihnya dunia. Hidup tanpa handphone, make up, kosmetik pemutih & penghalus kulit, pakaian modis, dan tak perlu galau setengah hidup mikirin jerawat yang timbul atau rambut lepek yang absen dicuci sehari. Hidup berdampingan dengan alam, menghirup asinnya udara pantai, mengumpulkan kerang laut, dan tertawa riang bermain dengan ombak. Melihat tawa polos tanpa tendensi, bukan tawa renyah nan merdu yang dibuat-buat seperti para wanita dalam talk show.

Dan itulah harapanku yang terpatri dalam benak, dan selalu ku-visualisasikan barang sejenak tiap harinya. Tak tahu bagaimana caranya, aku tahu suatu ketika jalan itu terbuka didepanku…

 

 

 

Ketika Pekerjaan Kadang Terasa Menyebalkan….

Percakapan pagi ini antara QQ (anggap saja namanya begitu) dengan si Bos,

Bos : “Tolong pesan Snack almond 3 kotak dan Cake Spekuk besar 1 kotak. jadikan 7 paket.”
QQ : “Ok, berarti 21 kotak snack dan 7 Kotak besar Spekuk ya pak?”
Bos : “Ya, Pastikan juga tamu hari ini dijemput di terminal 2, jam tujuh malem. jangan sampai salah.”
Bos : “Tolong juga, booking VIP room resto DN untuk 15 orang, jam setengah delapan malem. Email menunya ke saya, print juga taruh di meja saya. Jangan sampai salah, tolong ulangi apa yang saya instruksikan tadi.”
QQ : “Bapak minta dipesankan 7 paket isi snack almond 3 kotak plus 1 Spekuk yang besar, Jemput tamu di Terminal 2 jam 19.00, dan booking di DN resto jam 19.30 untuk 15 orang. Email menu dan print menu dari restoran”

Dan diperiksanya coret-coretan cakar ayam didepannya,
Checking list & Koordinasi : Sewa Alphard dan mobil 4 wd sore ini Ok, Shangrilla booked, Resto booked, Email done, Snack Ok.

‘Everything seems to be perfect!’ membatin dan puas 😀

Sampai 10 menit kemudian telepon berbunyi:

QQ : “Selamat pagi… ” (dengan suara riang, biar kayaknya sudah bosen jadi operator dan terima telepon berkali-kali tiap hari, mulai orang-orang yang nyari pimpinan sampai OB)

Si boss rupanya, tak berpanjang-panjang kata seperti instruksi sebelumnya, kali ini suaranya dingin dan dalam.

Bos : “Tolong dicancel semuanya”

Melongo untuk kesekian kalinya (sudah terjadi berkali-kali tapi kok ya ekspresinya masih kaget)

Dan proses pembalikan pun dimulai lagi… 😦 😦 😦

Well, it happens alot in daily activity.. especially if you work with the boss or people with power (and they can make you lose job easily if you do it wrong)

Sangat menyebalkan ketika kita mempunyai komitmen untuk bekerja dengan benar, lebih cepat dan efektif, karena pimpinan kita orang yang sibuk, dan kita dituntut untuk bekerja lebih cepat (karena tentu mereka tidak senang menunggu), namun tiba-tiba saja semua yang kita kerjakan terasa tidak ada gunanya. 😦

Tapi tentu kita tak serta merta bisa menyalahkan ‘para Boss’, mereka juga seperti kita yang juga mendapat order dari level diatas mereka.

Saat kebanyakan karyawan bilang ‘ Karyawan juga manusia’ , sebenernya berlaku juga untuk para boss. mereka juga sama manusianya. Mungkin mereka juga nggak mau terlihat plin-plan, tapi apa daya, mereka juga masih diperintah. Mereka mungkin juga merasa nggak enak pada para bawahannya karena instruksinya berubah tiap jam. Dan mungkin jugaa, yang bener-bener Top level, juga ga enak sama para bos kita karena reschedule mendadak, mungkin klien penting mereka juga punya kebutuhan mendesak.

dan akhirnya, meski menyebalkan, toh inilah ladang penghasilan yang kita miliki. Jika masih mau dan mampu, lanjutkan dengan sukacita, jika sudah tak sanggup dan tidak nyaman namun ogah beranjak, ya jangan mengeluh.

Seperti Andrea Sachs, tokoh utama dalam film ‘The devil Wears Prada’ yang sangat tertekan karena pekerjaannya (oh by the way, film itu sungguh menarik untuk disimak terutama karena film itu diadaptasi dari novel yang gosipnya merupakan curhatan seorang penulis yang pernah bekerja dengan boss yang super dingin dan kejam), pada akhirnya kita dihadapkan dalam pilihan; Take it, or leave it…..

Dan jangan bilang tidak punya pilihan, karena bahkan memilih untuk tidak memilih juga merupakan pilihan.. 😀

Is talent all it takes??

” If you’ve got talent, you can just sit back and relax. Play video games all day. Take your sports car for a spin. Go shopping. Show off your designer bag. You dont have to sweat. Cause you have got talent, haven’t you?’
(Nike commercial)

Judul iklan komersial dari Nike ini cukup menggelitik saya untuk membahas sedikit tentang talenta dan aneka usaha yang diperlukan untuk mendukungnya.

Sebelum mengulas tentang talenta, baiknya kita samakan persepsi dengan apa yang dimaksud talenta dalam tulisan saya. Arti kata talenta menurut KBBI adalah suatu pembawaan seseorang sejak lahir; bakat.

Beberapa mengatakan, talenta atau bakat ini, begitu mudah ditemukan, namun mencarinya bagi sebagian yang lain kadangkala seperti melewati labirin-labirin yang mengantar kita pada arah yang belum tepat.

Banyak pula yang beranggapan talenta adalah sesuatu keahlian yang menonjol yang dimiliki seseorang misalnya saja keahlian bermain musik, suara yang indah tiada taranya atau tangan handal yang mampu menghasilkan lukisan yang memikat.

Sependapat dengan iklan Nike diatas, bagi saya pribadi, talenta bukan sesuatu yang secara ajaib menjadikan kita handal, tapi ada semangat, ketekunan dan tak jarang airmata untuk membesarkannya.

Sedikit bernostalgia, suatu ketika beberapa tahun lalu, sepupu saya pernah menyinggung nama miss jinjing, dan sayapun sukses mengerutkan dahi mencari-cari nama itu dalam kamus otak saya sejenak.
“Miss jinjing itu lhoo..wanita mandiri yang nulis buku Anti Mati Gaya,shopalholic sejati,dan bla..bla..blaa..” celoteh sepupu dengan sangat bergairah.
Sungguh saya lupa-lupa ingat apakah yang disebut sepupu saya itu pernah disebut juga oleh salah satu senior dikantor.
“Ah ya, mungkin saya hanya tahu namanya saja.” saya menjawab seraya mengangguk-angguk bego.

Malam itu juga, demi memenuhi rasa ingin tahu terutama tak ingin dibilang cupu,saya mencari kata ‘miss jinjing’ di google.
‘ooo…ini toh orangnya’ saya membatin seraya membaca sebagian profil di blog tersebut.dan sekali lagi kepala saya mengangguk-angguk. Kali ini anggukan tanda paham lho.

Ya, otomatis tanpa dikomando lagi, miss jinjing yang glamour mengingatkan saya pada beberapa teman saya yang sukses meski awalnya hanyalah orang biasa. Tentu hidup mereka berbeda dengan hidup miss jinjing, yang kayaknya tidak pernah susah itu (mungkin susah, tapi saya tidak bisa membayangkannya), namun satu hal yang tercatat dalam benak saya adalah bahwa mereka orang-orang yang tahu memanfaatkan apa yang mereka sukai dan apa yang mereka miliki.

Mereka telah menemukan talenta mereka, dan menjadi hidup karena hal tersebut. Menjadi hidup yang saya maksud, bukan sebatas kecukupan materi, namun juga secara emosi karena mereka menemukan sesuatu kepuasan dengan apa yang mereka lakukan.

Miss jinjing dengan slogannya ‘Anti mati gaya’ atau ‘belanja sampai mati?'(maaf,yang ini saya lupa,apa sampai mati,atau cuma setengah mati -semoga tak ada yang tersinggung-) menemukan bahwa kesukaannya pada sesuatu(dalam hal ini belanja barang bermerek), dan pembawaannya yang juga suka segala bentuk kemewahan, mampu membuatnya menjadi ‘hidup’ dan ia benar-benar mendedikasikan dirinya untuk membantu orang lain yang mempunyai pandangan hidup ataupun hobi yang sama dengannya.

Miss Jinjing yang hobby belanja, hanyalah salah satu contoh. Ada banyak tokoh dalam bidangnya masing-masing yang mendayagunakan telentanya dan menjadi sukses. Sebutlah, J.K Rowling, Hendry Ford, Mark Zuckerberg,Walt Disney, sampai Anggun Cipta Sasmi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.

Satu hal yang pasti dari mereka adalah bahwa mereka konsisten dengan pilihan mereka meski banyak kesulitan pada awalnya. Jatuh bangun, dihina, diremehkan adalah makanan wajib orang – orang yang yakin akan kemampuan mereka namun masih tak terlihat oleh dunia. Itulah titik dimana Talenta bersinergi dengan Usaha.

Talenta itu…. Masih versi saya,

Bukan cuma masalah BAKAT, tapi PANGGILAN.
Bukan sebatas KEMAMPUAN, tapi juga sesuatu yang membuat kita merasa BERSEMANGAT untuk terus mengasahnya.
Bukan hanya sesuatu yang kita NIKMATI, namun juga menjadi IDENTITAS diri.
Bukan semata PROFESI/PEKERJAAN, melainkan yang membuat hidup kita menjadi lebih BERMAKNA.
Talenta adalah STEMPEL dari Tuhan untuk menandai kita masing-masing diciptakan khusus dan istimewa.

Seorang pemikat bisa menjadi marketing yang handal.
Seorang yang suka menolong orang lain bisa menjadi broker sejati.
Seorang yang suka mengamati bisa menjadi pengamat atau analis hebat.
Seorang pendengar yang baik bukan tak mungkin dipercaya sebagai konsultan.
Seorang yang perfeksionis bisa menjadi kritikus.
Demikian seterusnya….
dan banyak kemampuan menonjol lain yang kadangkala tak kita sadari ada dalam diri kita.

Talenta adalah modal untuk aktualisasi diri yang hasilnya sungguh mengagumkan jika dikelola dengan baik.  
Dia mampu untuk menjadikan kita manusia yang lebih berguna dan berkontribusi untuk orang lain. Bukankah sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bermanfaat bagi yang lainnya? 😀

Menggali apa yang benar-benar membuat kita lebih ‘hidup’. Mencari apa yang kita sukai, bukan hanya apa yang kita inginkan dan hiduplah untuk itu.

TALENTA, DEDIKASI & MIMPI=>SUKSES.

Apa saja yang membuat anda bergairah, rela menghabiskan waktu berharga demi mengerjakan sesuatu meski tak dibayar, atau sesuatu hal yang menjadi keahlian anda, sesuatu yang membuat anda merasa punya arti dengan melakukannya, genggam dan jangan lepaskan itu. Suatu ketika nanti anda tak akan pernah menyesalinya.

dan katakanlah,
“Sukses,
i’m coming…”

Dari saya yang yakin bakal sukses karena saya suka menolong orang lain untuk maju :))