Arsip Kategori: Financial Planning

Bicara Emas; Bisakah jadi Alternatif Investasi?

Rasanya udah lama ga ngecek2 investasi.Kebetulan kemarin sedang bebersih laci, jadinya nemu nota pembelian emas antam. (Notanya doang, emasnya di save ditempat amaan…hehehe). Mumpung ada waktu anak2 lagi tidur, cuss kusempetin cek harga emas saat ini.

Kenaikannya lumayan memang kalo diliat dari harga beli, tapi sebagai catatan kalo kita jual emas di antam, kita akan dikenakan harga jual yg berlaku. Sayangnya, spread atau selisih harga beli dan jual ini lumayan gede. Itu sebabnya kalo mau invest emas, memang harus jangka panjaaang supaya jual ga rugi spread aja.

Berikut harga emas saat kubeli kapan hari.

1 juni 2015 Rp. 5.280.000
8 Okt 2016 Rp. 5.700.000
4 Mar 2017 Rp. 5.630.000

Harga beli emas per hari ini 28 feb 2018 (10 gr)
Rp. 6.145.000

Harga jual emas hari ini (10 gr)
Rp. 5.715.000

Spread : 6.145.000-5.715.000 = 430.000

Jadi jangan dibayangkan kalo kita akan mendapat gain dengan pengurang harga beli juga. Enggak yaa, kalo kita akan jual, kita akan dikasih harga yang lebih rendah, yaitu 5.715.000 itu. Sedangkan kalo kita mau beli, kita akan dikasih hArga 6.145.000

Nah dari itungan itu aja, udah keliatan kan bahwa emas memang lebih cocok sebagai hedging / pelindung kekayaan dibandingkan investasinya.

Berikut rincian floating profit/loss dari pembelian emas yg kulakukan kapanhari:

1 juni 2015 Rp. 5.280.000 untung 8,2 %
8 Okt 2016 Rp. 5.700.000 rugi 0,26%
4 Mar 2017 Rp. 5.630.000 untung 1,5 %
Keuntungan rata2 : 3.22%

Untuk saat ini, return yg diharapkan bahkan tidak mampu menandingi inflasi ;-(

Meski begitu, jika dibandingkan dengan tabungan, emas tetap layak disimpan dgn pertimbangan bahwa dalam jangka panjang, harganya akan naik mengikuti pasar, beda dengan tabungan yg akan selalu dikondisikan dgn bunga rendah.

Emas juga likuid, mudah dijual. Bagiku, tetep kita harus punya yg namanya “pegangan” entah dalam bentuk tunai atau emas. Berjaga2 saja, jika terjadi bencana atau chaos yg bakalan menyulitkan kita untuk menarik dana di tabungan, maka emas ini bisa jadi jalan yg masih berguna. Indonesia punya banyak sejarah kelam kayak kerusuhan mei 98, isu PKI 1965, terorisme, dll. Jd wajib banget bagiku untuk bersiap2. Nah kalau ini hanya kacamata pribadi sih ya…boleh setuju boleh nggak.

Back to topic, Jadi jika temen2 punya uang lebih, daripada diparkir ditabungan yg bikin nilainya nyusut, mending diinvestasikan atau dibelikan emas. Emas bisa jadi alternatif bagi yg takut berinvestasi namun juga tidak ingin hartanya menyusut tergerus yg namanya inflasi.

Sekian sekilat infonya, semoga bermanfaat yes.
Bicara investasi atau emas, posting lama ini semoga membantu, silahkan mampir.

Nilai waktu uang

Mau Kaya, jangan nabung

Tabungan dan Reksadana; Sekedar Perbandingan.

Pernah nggak merasa, walau seberapa keras kita berusaha, kok ya masih aja uang di rekening ga nambah-nambah? Seberapa banyak kita kerja, kok ya selalu pengeluaran lebih terasa cepet ngalirnya daripada pemasukan?

Well, sebenarnya kalo kita mau sedikit belajar memanage uang, dan lebih cerdik memperlakukan uang, mungkin problem kesulitan uang di tengah bulan, kesulitan bayar SPP anak, dan kesulita-kesulitan lainnya bisa dihindari.

Salah satu cara menjauh dari yang namanya kekurangan uang, adalah memaksimalkan kinerja uang kita. memakai uang kita supaya menghasilkan leih banyak daripada yang kita habiskan. Caranya? Investasi doong.. Sayangnya banyak yang berpikir, investasi itu kudu banyak uangnya, kudu jadi orang kaya duluan.. lha kalo gitu, ga ada dong orang miskin yg bakalan jadi kaya, ya nggak?

Belajar berinvestasi, tak lepas juga dari perencanaan keuangan yaa.. coba deh baca beberapa postinganku duluu Disini dan Disini
Bukannya udah pinter, aku pas ikutan kelas Perencana keuangan, malah berasa tolol sendiri karena ilmu yang dikasih ga sepenuhnya bisa di aplikasikan didunia nyata. Aku belajar statistik; koefisien, beta dsb yang jelas bikin mumet dan mestinya sudah ada tools nya yg memudahkan buat orang awam kayak aku yaa. Meski gitu, selain mendapatkan suami 😀 , banyak juga ilmu yang bisa diaplikasikan dari training itu, kayak ngitung nilai waktu uang yang nurutku penting banget untuk ngitung kebutuhan kita nanti dimasa depan supaya nanti menua dengan cukup ga ngerepoti anak.

Nah ngomong Investasi; aku pengen berbagi sedikit tentang gimana uangku bertumbuh melampai nilai deposito, walo hanya nabung setahun selama sejuta perbulan. Jangan liat nilai/nominal kecilnya yaa, aku lebih ingin menekankan pentingnya menaruph dana sekecil apapun itu, ditempat yang tepat. Agar uang kita bisa kerja maksimal. Makanya aku sengaja bikin rincian nilai investasi (dalam hal ini reksadana saham), dan perbandingan jika uangnya kita parkir di tabungan saja.

Biar ga bosen bacanya, dah lebih baik langsung tak kasih hasilnya ya. Lama ga ngitung-ngitung, semoga hasilnya bener.. hahaha

perbandingan reksadana dan tabungan

Dari data diatas, bisa disimpulkan bahwa, dengan nominal uang sama yang ditabungkan ke instrumen berbeda (tabungan dan reksadana), akan menghasilkan hasil yang berbeda. Return reksadana mencapai 15% sedangkan return tabungan mencapai 5% selama kurun waktu 2 tahun.

Jadi, disimpulkan sendiri yaa…mana yang menurutmu paling baik untuk menggandakan uang. Ingat juga, bahwa yang namanya investasi reksadana juga punya resiko, dan kinerja masa lampau tidak mencerminkan kinerja yang akan datang. Jadi pelajari baik-baik kemampuan kita menerima resiko dibandingkan keinginan kita untuk mendapatkan imbal hasil.

Mau bisnis, ada kemungkinan rugi, entah tenaga atau uang.
Mau investasi juga ada kemungkinan rugi
Mau ditabung, nilai uang kita juga menyusut jika dibandingan dengan kenaikan inflasi (Rugi juga sebenernya)

Sekali lagi, harap dipilah dan dipilih dengan bijak sesuai profil resiko kita, mana yang terbaik untuk menentukan masa depan kita.

Penting untuk dipikirkan! Rencana masa depan keluarga

Berapa hari ini, dapat berita kedukaan yang sedihnya, menimpa para tulang punggung di usia produktifnya.

Ikut teringat pula cerita kakak sendiri, manakala seorang ibu rt ditinggal berpulang suaminya yang seorang bankir. Beruntung si suami menyediakan warisan yang cukup banyak sebenernya, jika dikelola dengan baik.

Sayangnya, 20 tahun menikah, si ibu hanyalah ibu rumah tangga yang tidak punya skill apapun untuk bertahan dan berjuang. Terbiasa mengelola uang gaji suami, tanpa tahu darimana mendapatkannya, Si ibu tidak tahu harus mulai berusaha dari mana. Pekerjaan terakhirnya ya sebelum menikah puluhan tahun lalu. Akhirnya, satu demi satu harta peninggalan suami dia jual sampai tersisa rumah 2 lantai yang dia tinggali sekian lama. Itupun mau dijual.

Ngeliat peristiwa kayak gitu bukan sekali dua..banyak disekeliling kita, dan mestinya para tulang punggung harus punya kesadaran menyiapkan dana untuk survive anggota keluarga manakala terjadi malang yang tak dapat ditolak kayak kematian ya. Dan ibu rumah tangga pun, paling nggak punya pegangan diluar aktivitas urus rumah sebagai bekal nanti jika terjadi resiko demikian.

Ayo para ibu…mulailah mikir masa depanmu dan anak-anak kita semua. Kalo bukan sekarang, mau kapan lagi..?jangan tunggu musibah datang baru kepikir usaha. Percaya deh, saat musibah datang, kita ga bakal sempat mikir bisnis.

Berusaha selagi belum kepepet, karena kalo pas kepepet itu rasanya semua jalan udah buntu, belum beban emosi yang nguras energi habis-habisan. Jd boro-boro mikir usaha, mau bangun tidur aja rasanya pasti sudah berat sekali ya

Mau nyoba usaha modal murah, bisa disambi urus anak, dan cepet baliknya? Ayo kukenalin komunitas bisnis di grupku, disini kita seneng-seneng bareng mbangun relasi, ketemu teman baru yg saling menguatkan, dan paling penting bisa menghasilkan. Bangga lho yang rasanya bisa berkontribusi terhadap keuangan keluarga. Kalo keran penghasilan bisa 2 tanpa ninggalin kewajiban sebagai ibu, kenapa nggak?

Info aku yaa
Line 081330006566/vincentiave
BBM 56FB5EE8

Bicara HUTANG; Step by Step Bebas dari Hutang Pribadi

Hutang, sesuatu yang jamak dilakukan masyarakat manapun dewasa ini. Sebenarnya berhutang tidak selamanya buruk, ada juga hutang baik yang bisa kita manfaatkan. Para pengusaha biasa memanfaatkan hutang untuk menjalankan roda usahanya, tentunya dengan perhitungan matang agar hutang bisa menghasilkan keuntungan, bukannya melilit dan menjerat debiturnya.

Sering juga terlihat, orang-orang yang hidup dari ‘Gali Lubang Tutup Lubang‘, hidup dari hutang ke hutang lainnya, yang ujungnya membuat hidupnya tambah menyedihkan karena dikejar-kejar hutang. Hutang bahkan bisa memutuskan tali silahturahmi, memperburuk hubungan suami – istri, membuat penghutang dijauhi di komunitas. Begitu besarnya efek hutang, yang sayangnya tidak pernah disadari penghutang sebelum benar-benar terperosok.

Ada beberapa sebab orang berhutang, yang mestinya bisa diantisipasi sebelum hutang benar-benar menjerat. Bisa dari kebutuhan mendadak yang urgent sifatnya, dari gaya hidup yang boros, gengsi tinggi saku tak sampai, namun akarnya jelas berasal dari money management yang buruk; tidak menabung/berinvestasi, malas menghitung hutang (surat tagihan tidak pernah dibaca) yang akhirnya tanpa disadari terus berbunga, rasa ingin menyenangkan diri berlebihan tanpa melihat kondisi, acuh tak acuh menganggap hutang akan menguap hilang sendiri. Tipikal seperti ini, umum ditemui pada karakter penghutang.

Perlu disadari bahwa berhutang sebenarnya merupakan penyakit mental; Mental Penghutang. Jadi cara pertama sukses lepas dari hutang adalah KEMAUAN penghutang untuk hidup lebih baik (lepas dari hutang). Jika tidak mampu, support dan pengawasan orang terdekat akan sangat membantu.

Setelah MAU BERKOMITMEN BEBAS HUTANG, semuanya akan menjadi sedikit lebih mudah. Berikut cara-cara yang direkomendasikan agar bebas dari hutang:
1. Hitung semua hutang yang ada; kartu kredit, hutang pada teman, tetangga, saudara, ipar dsb (pokoknya semua hutang harus dicatat)
2. Hitung semua pemasukan; gaji, pendapatan diluar gaji
3. Hitung semua pengeluaran rutin bulanan, pangkas mana yang tidak benar-benar dibutuhkan (uang jajan, rokok, bahkan jangan berpikir untuk membeli minuman ringan). Pos yang rutin biasanya Listrik, Air, Gas, Biaya makan.
4. Buat Anggaran (banyak aplikasi budgeting gratis yang bisa didownload di ponsel pintar) dan catat setiap pengeluaran TIAP HARI, cek di akhir hari berapa yang bisa di saving. INGAT, hindari memasukkan anggaran untuk kebutuhan kesenangan. Hiburlah diri sendiri bahwa kesulitan ini hanya sementara, sampai hutang bisa lunas. Jika tidak bersusah-susah saat ini, selamanya akan selalu hidup dalam hutang.
5. Bayar hutang dimulai dari yang bunganya paling tinggi, misal kartu kredit. Jika mungkin, alihkan semua hutang ke satu sumber dengan bunga wajar (misal; pinjaman koperasi perusahaan, saudara yang mampu). Alihkan pos-pos yang mestinya untuk kesenangan/keinginan untuk membayar hutang terlebih dahulu.
Bayarlah semampu mungkin & hindari membayar tagihan minimal. Makin lama hutang kartu kredit, makin besar bunga yang kita tanggung. Ingat, bunga Kartu kredit mencapai 36-42 % setahunnya! Berhentilah menambah hutang baru, gunting semua kartu kredit dan tutup rekeningnya, karena jika tidak ditutup, anda masih akan menanggung iuran tahunan, belum lagi godaan untuk memakainya lagi.
6. Dapat bonus tahunan/ THR?? lupakan untuk berfoya-foya. Lunasi dulu hutang agar makin cepat beban terlepas. Percayalah, setelah bebas dari hutang, anggaran bisa disusun ulang, dan tentu saja pos kesenangan bisa dimasukkan dalam anggaran baru.
7. Cari cara untuk menambah pendapatan, lagi-lagi prioritaskan hutang agar segera lunas.
8. Saat bebas hutang, buat anggaran baru, masukkan pos-pos yang lebih lengkap, jangan lupakan asuransi, tabungan untuk darurat dan investasi, karena tanpa Asuransi & Dana darurat akan banyak peluang untuk jatuh lagi ke pusaran hutang.

Bicara Uang ; Berkenalan dengan Si Kuning Cantik

” Emas tidak akan membuat kita kaya, tapi membuat kita tetap kaya”

Sedari dulu, emas / logam mulia merupakan simbol kekayaan, kekuasaan dan kemenangan. Mulai dari filem anak-anak tentang perburuan harta karun, sampai sejarah beneran yang banyak mencatat pentingnya emas dalam peradaban. Kerajaan -kerajaan banyak menggunakan emas untuk melapisi patung/ simbol – simbol keagamaan lainnya sebagai simbol keagungan, juga prestise dan kebesaran lainnya. Hal itu menunjukkan emas telah melewati sejarah panjang dari dahulu namun tak lekang waktu, karena bahkan sampai masa kini, emas tetap diburu dan tak kehilangan daya tawarnya.

Tak salah rupanya kalau kita melirik emas sebagai salah satu simpanan hari tua kita. Sejarah membuktikan, emas tak pernah out of date, tak pernah ditinggalkan, dan nilainya mampu mengimbangi bahkan menandingi inflasi. Karena itulah Emas selalu menjadi pegangan aman yang bisa dipercaya, bahkan saat ekonomi carut marut tak menentu.

Fungsi emas sendiri dalam jangka panjang lebih kepada pelindung kekayaan agar nilai kekayaan tidak menyusut, cocok bagi para konservatif yang takut menanamkan uangnya ke instrumen investasi yang lebih agresif dan beresiko. Karena sifatnya likuid (mudah dicairkan), malahan kupikir lebih bagus menyimpan dana darurat dalam bentuk emas daripada uang.
Apa itu dana darurat, bisa diklik diposting sebelumnya Bicara Uang ; Menyiapkan Dana Darurat

Misalkan, jika 5 tahun lalu 20 gram emas bisa digunakan untuk membeli kambing(contoh aja; ga tau sebenarnya harga kambing berapa), saat ini dengan jumlah emas kurang lebih sama atau bahkan kurang dari 20 gram jika dikonversikan, kita tetap bisa membeli seekor kambing.

Coba kalau kita simpan uang di bank, katakanlah 5 tahun lalu harga kambingnya 7 juta, dan uang kita senilai 7 juta terendap di tabungan dengan bunga 2% setahun. Bisa dipastikan, saat ini, harga kambingnya sudah tidak terbeli lagi dengan uang tabungan kita yang nilai awalnya 7 juta itu. 7 juta 5 tahun lalu, dibandingkan dengan 7 juta saat ini tentu berbeda nilainya.

Hal ini terjadi karena inflasi yang menyebabkan nilai kambing (dan barang lainnya) naik terus sehingga meskipun uang kita katakanlah disimpan di celengan jumlahnya tetap 7 juta, tapi daya beli yang digunakan uang itu sudah tidak sebesar 5 tahun lalu. Pun di tabungan, imbal hasil tabungan kita tidak sejalan dengan kenaikan harga kambingnya yang bisa jadi sampai 10% kenaikannya dalam setahun.

Umpama kenaikan harga kambing mencapai 10% per tahunnya, maka dalam 5 tahun, harga kambing sudah mencapai Rp. 11.273.570 (perhitungannya lihat Time Value Of Money (Nilai Waktu Uang) ), sedang uang kita? jika disimpan di tabungan saja, tanpa memperhitungkan biaya-biaya admin dan pajak, dalam kurun 5 tahun, hanya akan menjadi sebesar Rp. 7.728.566,- Ga cukup kan buat beli kambing?

Untuk mengatasi hal itu, solusi paling wajar adalah menempatkan uang kita dalam instrumen investasi yang paling tidak bisa mengimbangi inflasi.

Berinvestasi emas tidak memerlukan keahlian khusus seperti investasi lain (saham, property dsb) karena sifatnya yang hanya merupakan pelindung nilai kekayaan (Ketika nulis ini, baru ngerti, kurasa ada korelasinya mengapa kami keturunan tionghoa memberikan emas sebagai sumbangan pernikahan – rupanya para tetua lebih melek investasi daripada para mudanya :D) .
Tidak perlu pusing memikirkan teknik investasi dan analisa yang rumit yang ujungnya malahan gak jadi dijalankan. Bagiku, investasi yang jelas menghasilkan itu, jika dilakukan action secepat mungkin dan ditahan selama mungkin.

Jadi jangan ragu mengganti tabungan dari uang menjadi uang emas. Gold is more powerful than money.
IMG_20150601_172720

Bicara Uang ; Menyiapkan Dana Darurat

Para perencana keuangan berpendapat, dana darurat adalah hal pertama yang harus disiapkan sebelum seseorang memutuskan berinvestasi. Sebenarnya apa sih dana darurat, dan fungsinya?

Seperti posting yang lalu tentang Perencanaan Keuangan Pribadi , Dana darurat adalah dana likuid (sewaktu-waktu bisa dicairkan), yang berguna sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi resiko mendesak yang tidak kita harapkan.

Hal-hal tersebut contohnya ; terkena PHK dari perusahaan, perbaikan kendaraan/rumah yang tidak bisa ditunda, dll. Dana cadangan hanya digunakan untuk keadaan yang “MENDESAK” saja. Ibarat sedia payung sebelum hujan, Dana darurat ini berfungsi sebagai payung cadangan selagi hari-hari kita kurang bersahabat.

Besaran dana darurat diharapkan berkisar 3-6 kali pengeluaran bulanan, jadi jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan seperti misalnya PHK, kita tidak kesulitan mencari sumber dana untuk membiayai hidup setidaknya sampai beberapa waktu kedepan.

Dana darurat ini karena sifatnya yang mendadak, sewaktu-waktu dibutuhkan; harus disimpan dalam bentuk simpanan yang mudah dicairkan seperti tabungan atau deposito jangka pendek. Emas juga bisa menjadi alternatif karena sifatnya yang likuid/ mudah dijual/dicairkan selain juga tahan inflasi.

Sebaiknya jangan menyimpan dana darurat terlalu besar lebih dari 6 kali pengeluaran, karena sungguh sayang kalau uang kita tidak bekerja dan hanya parkir di tabungan dengan bunga yang kecil selagi inflasi menyusutkan nilai mata uang. Gunakan kelebihan dana untuk mengembangkan uang ke instrumen investasi yang lebih menghasilkan.

Pintar Mengelola Pemasukan

Jika digambarkan, kondisi keuangan tiap orang rata-rata ada pemasukan, dan pos-pos pengeluaran. Aliran uang ibaratnya seperti bak mandi dengan satu keran untuk mengisi air di bak, dan saluran pembuangannya merupakan pos keluar. Pos-pos keluar biasanya meliputi; biaya hidup, cicilan hutang, aksidental, tabungan, gaya hidup dsb. Bayangkan satu aliran kran masuk, mengisi bak, dan secepat itu keluar lewat lubang-lubang penguras. Besar kecilnya lubang penguras sangat mempengaruhi volume air yang tertampung/terkuras.

Semakin banyak air tertampung, maka posisi bak akan aman, artinya sewaktu-waktu dibutuhkan, selalu tersedia air untuk digunakan. Demikian kondisi keuangan kita; yang kita lakukan untuk menjaga kekayaan adalah dengan memastikan air/ Pemasukan yang masuk lebih banyak daripada yang terkuras/ dikeluarkan. Caranya dengan menekan pos pengeluaran atau menambah keran pemasukan. Lebih baik lagi jika Menambah keran pemasukan dan bisa memperkecil lubang pengeluaran.

Jika memang kita hanya mempunyai satu sumber pemasukan, maka harus dilakukan cara untuk memangkas/memperkecil lubang pengeluaran-pengeluaran. Saat ini banyak aplikasi dari ponsel untuk memonitor pengeluaran kita agar tidak bocor tanpa tahu kemana larinya uang kita, tinggal search keyword ” budgeting”, maka akan banyak aplikasi yang bisa dipilih untuk diunduh dan kita gunakan memonitor pengeluaran kita.

Gunakan patokan umum berapa budget untuk pos-pos rutin dan hutang seperti diulas di post Perencanaan Keuangan Pribadi , dan belajarlah tertib untuk menggunakan uang tidak lebih dari budget yang sudah dirancang. Jika perlu, lakukan review mana pos-pos yang tidak urgent, sehingga bisa dihilangkan untuk dibayarkan kepada pos lain yang lebih mendesak. Misalnya pos untuk entertaint/ membiayai gaya hidup bisa dihapus sementara untuk menutup hutang kartu kredit agar kita tidak semakin terbeban bunga tinggi.