Arsip Kategori: Breastfeeding

2 tahun 5 bulan; Akhirnya berhasil menyapih Rafael

Sejak ~kelahiran baby G, Rafael menjadi lebih manja dan frekuensi nenennya jadi sering. Bahkan kata “nenen” udah jadi semacam mantra yang diucapkan terus menerus tiap mulutnya ga nempel PD maminya.

Berbagai cara mulai sounding (niatnya menyapih dengan cinta) sampai akhirnya aku jd sering marah karena frekuensi nempelnya ga jamak; dikasih lipstik, kunyit, bawang merah, bawang putih sampai garam (sempet keperihan jadinya), teteeep aja ga mempan. Rafael sebenernya jijik saat liat Asi mengalir keluar kalo pas LDR* pas neneni gabby, tapi anak seumur 2 tahun udah pinter. Dia bawa tisu untuk lap, dan pas udah bersih cepet2an sebelum asinya keluar dia nenen 😞

Sampai tanggal 25 desember kemarin pas papinya libur, mommy baru dapat dukungan untuk mencegah rafael nenen. Papinya bilang “hiih putih2 gitu nanti keluar dari hidungmu loh koo” sama ekspresi jijik yg mengena banget. Rafael sempet marah, teriak kuenceng karena merasa diolok mungkin yaa…sampe nangis karena pengen nenen tapi galau dan jijik kepikiran omongan papinya. Ditambah, mami pencet asi n ga sengaja kesemprot kewajahnya. Kumplit, dia ngamukk nangis2 jejeritan sambil usap2 wajahnya😁

Malamnya tiap dia bilang nenen, mommy nanya “koko mau minum putih2?, gapapa sih kalo ga jijik”. Awalnya doi ngamuk nangis terus tiap dijawab begitu. Maminya cuma bisa meluk n nyium dia sampai tangisnya agak reda, setelah itu mami jelasin kalo putih2nya itu memang untuk bayi, koko yg udah gede waktunya makan atau minum kalo lapar dan haus.
Kalo Gabby pas gumoh atau asi keluar dimulutnya, mami papinya nunjukin ke rafael sambil bilang “ini loo di dalem nenen memang ada putih2 untuk makannya gabby”.

Sampai esoknya meski pake acara drama ternyata bisa juga terlewati tanpa dia nyusu. Tiap dia bilang “nenen” mami langsung ganti kata nenen dengan “minum putih2”..daan ternyata cara ini manjurr banget. Sampai tulisan ini dibuat, rafael sukses ga nyusu. Sesekali dia sandar sambil bilang nenen. Mungkin kangen rasa nyamannya. Kalo mami tanya, mau putih2, dia akan langsung geleng kepala sambil bilang “endakk,nenen bayi”. Rupanya dia udah ngeh kalo asi itu buat adek bayi 😁

Gantinya nyusu, kalo mau tidur rafael minta “ejet” alias “pijet”. Dengan seneng hati mommy pijetin daripada kudu nyusui, krn rafael nyusunya lama bikin pegel banget dipinggang.

Meski sempet ga enak badan karena Asi yg numpuk ga dihisap, mastitis yg dikhawatirkan ga kejadian. Tiap bengkak (dan keras kyk batu-suakiit banget), mami peras sebagian (ga sampe habis), setelahnya baru disusukan ke gabby. Gabby sendiri ga kuat minum banyak, dan asi akhirnya banjir2 sampe pernah perjalanan pulang surabaya ke sidoarjo baju mami bagian depan basah semua meski pake pad. Butuh waktu semingguan sampai kondisi PD mulai normal lagi.

Jumat besok, sbg ucapan syukur, maminya mau sekedar bagi-bagi kue di kantor papi dan buat bapak2 satpam di kompleks 😁😁😁

Ada apa dengan Negeri ini…?

Mungkin karena hamil, mungkin juga karena sudah menjadi ibu, pagi ini melihat foto jasad sikecil intan marbun tertutup kain dan dikelilingi para dewasa yang bersedih, aku ikutan nangis tersengguk-sengguk tak terbendung..gadis kecil yang manis itu harus mati begitu saja karena lemparan molotov bom oknum ‘pembela agama’.

Betapa dunia yang harusnya kita jaga, demi anak kita mendapatkan keriaan masa kecilnya, telah berubah menjadi ladang penuh ranjau, yang ditanam oleh prasangka, kebencian yang terus menerus dipupuk.

Lihatlah tiap hari berita kebencian terus bersliweran, kita posting di media sosial, tanpa saringan, tanpa perlu ditelaah gunanya. Tak peduli siapapun bisa mengaksesnya; anak-anak, dewasa, pendidikan maupun tidak pendidikan. Dan sekejap saja semua orang tak ahli pun bisa menjadi hakim dengan pemikiran dan egonya-yang kadang tak sesuai realitas. Siapapun juga, tak kenal lulusan SD sampai Magister, menjadi sama pinternya dalam menyebar kebencian yang katanya pembelaan atas agama, padahal atas egonya sendiri.

Negeri ini juga sudah dipisahkan dengan kafir non kafir, politik pro anu dan inu, sampai tak tahu cara untuk legowo dan membangun bersama. Cepat tersulut amarah, lambat mengasihi. Suka menuding, tapi tak pernah berkaca. Sibuk bertengkar seperti bangsa barbar, lupa ada generasi dibawah kita yang menonton dan akan menjadi penerus watak dan adab kita.

Aku sudah bersepakat dengan diriku, untuk menciptakan dunia yang indah bagi masa kecil anakku. Tidak ingin mengulang masa kecilku padanya, dimana kami minoritas selalu diolok dan diludahi. Aku sudah melepaskan dendam, karena dunia tak akan lebih baik dengan dendam yg kuwariskan. Sudah cukup itu semua, sekarang saatnya mengajarkannya hidup rukun berdampingan dengan saudaranya yang cina, sunda, saudaranya yang poso, toraja, yang kristen dan yg muslim.

Aku, kamu, kalian semua punya andil dalam menciptakan kedamaian atau kerusuhan dengan menggulung opini publik, dan menggalang aksi pro anu dan inu tadi. Jika masih ingin memenangkan ego dan ingin indonesia terbelah, porak poranda, teruskan saja menumpuk rasa benci seperti jerami diatas bara api. Mungkin kau berpikir tak apa jika negaramu sendiri rusuh kau kacau, kau benci, dan saudaramu kau musuhi. Yang penting kau (yang kau pikir benar), menang.

Namun jika kau peduli masa depan bangsamu sendiri, tempat kau bernaung sedari kecil, mencari nafkah, menghidupi keluarga dan menjalin rasa persaudaraan, hentikan semua postingan jahat dan provokasimu. Pikirkan baik-baik apa yang akan kau posting, apa yang akan kau ajarkan pada para balitamu dirumah, ditempat ibadah, karena nantinya merekalah yang akan menjadi aset yang membangun, atau mesin penghancur dinegara yang bhineka ini.

Jika kita sepakat Allah adalah hakim yang adil, maha melihat, mampu menghidupkan dan mengambil nyawa kapanpun Dia mau, apa pentingnya bagimu menumpahkan darah orang lain ? Toh jika Dia mau, sekejap mata para penghinaNya bisa mati disapu tsunami, dihantam banjir, atau disambar geledek. Mengapa kau harus bersusah-susah menjadi alatNya untuk membunuhi sesamamu, dengan menjadi allah atas nyawa orang lain?

Atau sebenarnya bukan Allah mau begitu, tapi kamu yang haus akan Kuasa menjadi seperti Allah. Dosa tertua yang tak lekang waktu dan masih laris dijual iblis pada manusia.

Damailah disana Intan, dimana tak ada lagi benci dan permusuhan.

Mengapa harus ASI?

Mengapa harus ASI?
Menurutku, sudah kodratnya setiap ibu menyusui bayinya. Ada tanda-tanda kodrat yang tidak bisa diingkari yang jelas membuka mataku bahwa sudah selayaknya bayi manusia mendapat air susu ibunya, bukan air susu dari spesies lain. Just my simple thought, Mengapa harus Asi? Lanjutkan membaca Mengapa harus ASI?