Arsip Kategori: Art

Proyek berkebun ; Memindah Bayi-bayi Cabe Rawit

Setelah percobaan menyemai biji cabe pada post sebelumnya please click , 3 minggu berjalan, benih cabe rawitku mulai sesak di media tanam yang hanya berupa botol plastik Nu Tea dan Tempat Floatnya KFC. Khawatir pertumbuhannya terhambat (karena mesti rebutan bahan makan dengan tanaman lainnya – mungkin 😀 ), sorenya kubelain berangkat ke toko bunga beli media tanam. Ternyata harganya murce, hanya 6 ribu rupiah per sak (entah 10/20 kiloan).

Sore itu, gelap-gelapan sepulang kantor, ga pake lama, media langsung kupindah ke botol-botol bekas aqua 1,5 liter ( masih belum punya polybag T-T) dan bayi-bayiku langsung kuungsikan sebagian kesana. Sebagian masih ada di media tanam lamanya karena aku kuatir kalo-kalo setelah dipindah malah mati (jadi masih ada cadangan)

Akar dan batangnya sudah sepanjang jari tengah orang dewasa, dengan daun antara 3 dan 4 helai. Sampai saat ini, setelah seminggu dipindah, syukurlah bayi-bayinya masih terlihat sehat 😀

Berharap bisa tumbuh terus dan bisa segera berbuah.

(DIY) Membuat Souvenir Pernikahan Murah Praktis

Karena acara syukuran pernikahan kami diadakan 2 kali dan acaranya cukup jauh dari Surabaya, maka kami butuh membuat souvenir yang ringan, praktis namun tetap cantik. Disepakati untuk membuat souvenir berupa sendok garpu yang dikemas cantik. Untuk pembuatan souvenir ini, kami mendapatkan bantuan dari seorang teman baik yang banyak membantu proses persiapan pernikahan kami.

Sendok garpu kami beli di Kedawung (daerah rungkut), berapa harga tepatnya kami lupa, yang pasti biayanya jadi jauh lebih murah daripada toples.

Jika ingin membuat souvenir sendiri yang murah, ringkas, ringan, tapi ga murahan, kurasa ini cocok dikantong dan enak pula dipandang.

Bahan yang dibutuhkan hampir sama dengan souvenir toples, hanya toples diganti dengan kotak mika yang bisa dibeli di PGS juga.

IMG_20141116_233927[1]

IMG_20141116_233942[1]

Proyek Berkebun. Trial Cabe rawit Merah.

Menyongsong masa cutiku yang makin dekat, ada perasaaan takut bosan jika harus seharian sendirian dirumah. Pertama-tama inginnya melanjutkan kebiasaan lama, masak dan bikin kue. Namun, sejak 5 tahun terakhir selain sudah jarang menyentuh dapur, akibat maraknya gas meleduk, aku jadi takut banget pegang kompor gas.

Dirumah pun, kami memakai kompor induksi yang wattnya nyampe 2000 watt. Jelas makan energi kalo untuk bikin kue yang lama, plus panasnya hanya berkumpul di kumparan kompor. wong kadang dibuat masak saja panasnya ga rata.

Ide lain, masih melanjutkan hobi pas SMA, berkebun. Pas SMA sempet suka nanam mawar (tapi mawar lokal) dan berkembang jadi banyak banget sampai kesel liatnya. Mawar lokal kan penampakannya kurang bagus, daun bunganya tipis pendek dan mekarnya ga secantik mawar holland.

Tapi mengingat anggrek dirumah yang udah sekarat (karena disiramnya udah seminggu sekali, airnya banyak pula), aku dah mulai kuatir kalo ga bakal mampu ngerawat kalo ga secara kontinyu ngopeni tanaman. Tanaman terlebih bunga kan harus selalu dipantau, disiram, dipupuki.

Jadilah sekarang mulai belajar ngopeni benih. Start awal, cobain cabe selain gampang, juga karena cabe dirumah selalu mubazir beli banyak untuk dibuang karena terpakainya sedikit.

3 hari disemai di tanah kompos, ditutup plastik hitam dan disiram pagi sore, biji cabe udah berkecambah/ sprout.
IMG_20150408_193310[1]

IMG_20150408_193403[1]

dan dalam waktu seminggu sudah tumbuh bakal tanamannya. Seneng ngeliat bayi-bayi tanaman muncul dengan hijaunya. Segerr.. Setelah sprout, bayi tanaman mulai dikenalkan cahaya matahari.

IMG_20150413_130947[1] IMG_20150415_081605[1]

IMG_20150416_154358[1]

Berikutnya, ditunggu sampai tingginya cukup dan daun sejatinya muncul 4 lembar (hasil baca-baca di web berkebun) sebelum dipindah ke media tanam yang lebih besar dan disiram cahaya matahari langsung.

Semoga hidupp dan berbuah subur… 😀

(DIY) Membuat Souvenir Pernikahan Sendiri

Ide ini datang ketika pada persiapan pernikahan, kami ga bisa mendapatkan orang yang mau menerima orderan souvenir yang hanya 100 pcs. Di PGS (pusat Grosir Surabaya) yang katanya gudangnya pesanan souvenir, minimal order 200 pcs.

Daripada kami memesan begitu banyak lebih dari yang kami butuh, akhirnya aq berinisiatip membuat souvenir pernikahan sendiri. Ide paling gampang, souvenir dari toples dengan hiasan pita dan diisi permen.

Di tempat yang sama (PGS), kami membeli 5 lusin toples @rp. 5.000. ( belakangan kami tahu bahwa di kedawung sana toples yang sama dihargai 3000an tok)

Pita dan bunga pita kubeli dari jombang. 100 bunga pita harganya kurang dari 30.000 rupiah. Sempat beli pita di surabaya karena kehabisan stok, ternyata harganya cukup njomplang daripada di jombang. Harga pita di surabaya dihitung per meter.

Persiapan yang dibutuhkan:
1. Toples kaca
2. Pita bunga
3. Pita
4. Lem tembak
5. Permen plastik perak/emas.
6. Stiker nama/ kartu ucapan terima kasih

Caranya:
1. Pita panjang dililit dileher toples, bentuk simpul.
2. Rekatkan pita bunga menggunakan lem tembak.
3. Isi dengan permen.
4. Tempel stiker nama pada toples.

Mudah sekali membuat souvenir pernikahan sendiri. Kira-kira 2 minggu / 4 hari efektif sabtu-minggu, souvenir pernikahan yang kami buat sendiri sudah jadi. Berikut penampakannya :

IMG_20141010_113943[1]

IMG_20141010_113600[1]

IMG_20141111_125614[1]

Do It Yourself, Save your Money and Love the Earth…

Ceritanya bermula beberapa hari kebelakang saat akhirnya punya kaus baru yang matching sama wedges hijau kuning yang tidak pernah dipakai sejak membelinya tahun lalu. Ndilalah, begitu membuka kotak sepatu, akupun kecewa berat karena lapisan kulit sintetis tampak mengelupas di beberapa bagian.

Dengan pertimbangan cacatnya tidak terlalu terlihat, Jumat itu akhirnya terpakailah wedges kuning berpadu dengan T-shirt Kuning, Boyfriend jeans, kalung hijau dibalut Blazer hitam untuk kesan formal di kantor. Aman, penampilan cukup edgy dan eye catching.

Malapetaka terjadi esoknya, kelupasan makin banyak dan bikin kheki berat karena sandal yang sebenarnya cantik itu jadi perhatian karena kelupasannya yang bikin malu. Tak bisa lebih malu lagi kalau penampilan sudah Ok, tapi sandal bocel-bocel.

Tidak rela membuang wedges yang baru (karena belum sekalipun dicicipi), dan berbekal tontonan tiap sabtu-minggu pagi di NET TV tentang fashion, semalaman kucari info dan buka-buka youtube untuk menemukan edisi cara meremajakan sepatu-sepatuku yang lumayan banyak tapi terbengkalai tak terawat karena kemalasanku 😦

Setelah beberapa jam, edisi yang kucari tidak ketemu, namun ternyata Youtube mengarsip banyak sekali video sejenis. Tinggal search ‘DIY’, dan taraaaa…muncullah banyak sekali video-video kreatif tentang peremajaan barang usang kita. (thanks to Youtube 😀 )

Menarik mengetahui, bahwa kita bisa membuat barang usang menjadi layak pakai kembali. Untuk kasus sandalku, ada beberapa cara yang kuterapkan untuk mereparasinya. Awalnya kusapu dengan cat acrylic, tapi hasil sapuanku terasa kurang halus meski warna campuranku cukup mendekati warna asli wedges (hijau muda, putih dan kuning).

Polesan berikutnya kugunakan Pylox yellow, warnanya berbeda dengan warna asli wedges, tapi hasilnya cukup halus dan terlihat lebih glossy. Sengaja tidak kuwarna bagian bawahnya, agar warna tidak monoton dan terlalu cerah.

Dibutuhkan kurang dari 2 jam untuk mewarnai sandal dan mewarnai kaos oblong tak terpakai. Hasilnya…? tidak terlalu memuaskan, tapi juga tidak terlalu buruk. Berikutnya, pasti lebih rapi. Yang penting wedges siap dipakai lagi. It really fun, hemat uang, dan terpenting membantu mengurangi sampah untuk kelestarian bumi kita.

Step by step mereparasi sandal akan diulas di tulisan berikutnya, kumplit dengan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada awal percobaan pertama.. 😀

Perjalanan Penuh Warna ; Thaipusam

17 Januari 2014
Thaipusam adalah salah satu festival umat Hindu, Hari Besar Nasional di Malaysia dan dirayakan secara meriah dengan arak-arakan dengan puncak prosesi di Batu Caves, kira-kira 15 km dari pusat kota.

Festival ini merupakan salah satu magnet kuat yang menarik ribuan turis mancanegara, terutama para fotografer untuk datang ke Malaysia, terlebih karena atraksi ekstrim yang dilakukan para pesertanya.

Sayangnya, begitu sulit mencari spot yang bagus untuk mengambil gambar karena padatnya festival. Bergesekan dengan keringat dan kulit orang lain, mungkin bukan hal yang cukup menyenangkan, namun bagaimanapun festival ini tetap layak untuk didatangi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Source :

Arti Sebuah Nama

Shakespeare mungkin bisa berkata ‘apalah arti sebuah nama?’
namun bagiku, namaku adalah siapa aku…
Vita bukan sekedar Hidup (*latin) tanpa arti
Tapi itulah berkat, harapan, kutukan, atau bahkan takdir bagiku.

Hidup….
Seperti ilalang liar mungkin itulah aku.
Seperti noda yang tak hilang2…
Selalu mengganggu karena tak bisa lenyap
Berkatkah itu, atau kutukan seorang ‘Vita’?

Hidup…
Tak layak diratapi terlampau lama…itulah aku
Tak sekalipun ingin untuk tak bangkit.
Meski hati meraung2 ditikam kecewa, walau kepahitan menggigitku sampai berdarah-darah.
Apakah karena aku terlahir sebagai ‘Vita’?

Hidup…
Adalah merajut bahagia,meski hati merana…
Menghapus tangis dan secepatnya mengganti dengan senyum
Menghibur dan memulihkan luka agar berganti tawa…
Adakah itu berkat menjadi “Vita’?

Hidup…
Adalah kesungguhan, bukanlah suam-suam kuku…
Karena tiap jatuh, aku tak bisa berlama-lama berkubang
Aku mau cepat berdiri, berjalan lagi, berlari lagi…menghirup udara yang hidup
Apakah karena namaku yang ‘Vita’??

Ah, aku tak jua paham..
Apakah aku dikutuk menjadi ‘Vita’,
Terlahir dan ditakdirkan sebagai ‘Vita’,
Diberkati ibuku agar ‘Vita’, 
Atau menjaga arti ‘Vita’ yang dilekatkan pada hidupku?

Yang aku tahu…
Hidup adalah merangkak, berlari, menangis, tertawa, terjatuh, dan bangkit
Hidup kadang berlapis derita, jangan terkecoh
Hidup adalah cinta, percayalah..

Hidup adalah senyuman dari sang Khalik, pemberian maha indah.
Hidup adalah napas titipan,yang harus dibayar dengan syukur
Hidup adalah Vita
Vita adalah aku…