Banyuwangi; Mengenal Suku dan Adat Oseng

Saat Gathering Univ Petra kemarin, kami ngelencer ke banyuwangi, kota yang belakangan populer dengan menjual wisata dan adat sukunya dengan perayaan dan festival-festival internasional.

Kami dijamu oleh teman  dari prof. Rolly intan, mantan alumni UK petra juga yang saat ini menjabat ketua DPC partai Demokrat. Salah satu tujuan yang menarik, saat kunjungan ke salah satu desa yang menjadi ikon wisata budaya banyuwangi. Desa Kemiren, Desa budaya dimana masyarakatnya masih memegang nilai adat budaya Oseng,  suku asli Banyuwangi.

Suku oseng merupakan suku turunan dari kerajaan majapahit, bersaudara dengan suku tengger di bromo dan suku Bali.

Banyuwangi terkenal dengan tarian Gandrung, tarian yang diciptakan dimasa penjajahan belanda. Tarian ini awalnya dobawakan oleh lelaki yang berpakaian wanita. Digunakan sebagai sarana mengumpulkan beras untuk perang melawan VOC, sebagai kedok penyamaran untuk memata-matai Belanda saat gandrung ditampilkan di tumenggungan. Juga sebagai sarana untuk membangkitkan semangat juang para pemuda. Singkatnya, Gandrung adalah sarana penolakan penjajahan.

Saat ini gandrung ditarikan oleh wanita, bukan sembarang wanita, mengingat durasi 3 babak yang cukup lama dari malam sampai subuh. Tercatat, sinden yang membawakan lagu di foto ini, biasa non stop perform dari jam 9 pagi sampai jam 4 subuh.

Cukup banyak sih kuliah kultural yang diceritakan pada kami, namun krn rewelnya baby rafael, jadinya ga sempat mendokumentasikan seluruhnya.

Semakin kesini, saya makin kagum dengan segala kekayaan negeri tercinta ini. Indonesia negeri kaya budaya, kaya suku, kaya alam, dengan keramahan dan filosofi hidup yang tinggi. Kekayaan tak ternilai yang harus terus dilestarikan.

Ditengah banyaknya isu intoleransi dan kefanatikan beragama yang justru memecah belah kebhinekaan, berkunjung ke desa ini bagaikan menemukan oase yg menyejukkan. Menemukan Indonesia lampau yang jaya dan dikagumi bangsa lain karena nilai seni budayanya yang tak ada duanya.

Semoga, makin banyak masyarakat sadar budaya dan makin menghargai bumi tanah air sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s