Menyusui itu (ga) Gampang

Kupikir, menyusui itu proses alami yang ibu mana saja bisa melakukannya dengan mudah. Tinggal buka, masukkan puting dan ‘ blep’ , bayi minum dengan enak, bayi tenang dan ibu pun senang. Nyatanya, sampai saat ini baby El hampir 4 bulan, aku masih punya problem menyusui meski sudah jauh kebih baik daripada dulu. Berikut beberapa masalah yang kualami yang membuat menyusui menjadi perjuangan, yang andaikan saja kutahu lebih awal mungkin bisa dihindari.

1. ASI belum keluar
Kupikir, asi otomatis keluar ketika kita sudah melahirkan, kenyataannya tidak demikian yang terjadi padaku, dan ini ternyata merupakan hal yang wajar dialami wanita yang baru melahirkan.

Sesaat setelah melahirkan, baby El dibawa padaku untuk menyusu, namun gagal karena walau dada sudah keras namun air susuku belum keluar ditambah lagi putingku datar dan melesak ke dalam.

Solusi yang dulunya kulewatkan, mestinya aku datang ke konselor laktasi untuk bekal menyusui yang benar, belajar breastcare/ memijat PD untuk melancarkan ASI.

2. ASI sedikit
Seharian El tidak menyusu, aku sudah mendapat tekanan terus menerus dari keluarga. Akhirnya hari kedua, tak berdaya dengan tekanan dan tuduhan tegaan pada bayiku, aku memutuskan memberi sufor ( meski baby El diawasi RS dan dinyatakan masih bisa menunggu ASI)

Perlu kuceritakan pula bahwa aku hanya tinggal berdua dengan suamiku. Tanpa orang tua, pembantu atau saudara yang membimbingku, ternyata berdampak besar pada kondisi fisik dan psikisku. Dengan semua cucian yang menumpuk, bayi kolik yang menangis terus, puting lecet-lecet, ditambah pengalaman nol dalam mengasuh bayi, aku sukses mengalami stress pasca melahirkan alias baby blues syndrome.

Akumulasi Stress merasa tak utuh menjadi ibu karena tidak bisa menyusui, tidak ada support dari keluarga, dan kesibukan mengurus bayi sendirian (yang berujung jarang makan) semakin menghambat produksi ASI ku. Awal-awal aku menyusui baby El dari PD, seringkali dia menangis frustrasi akibat ASI ku tidak banyak. 2 jam memerah, aku hanya bisa mengumpulkan 10/20 ml susu saja meski dada sudah dipencet-pencet sampai sakit dan minum ber box-box pelancar ASI.

Untuk itu, ibu baru hendaknya membuang segala keruwetan yang bisa memicu stress. Dalam kasusku, aku mengganti popok kain dengan popok disposable untuk mengurangi beban mencuci dan mencari asisten rumah tangga untuk memasak sayur dan makanan bergizi untuk melancarkan ASI.

Pemakaian sufor jelas bukan jalan keluar. Karena produksi ASI itu sifatnya supply on demand, Pemakaian sufor, membuat bayi melewatkan waktu memerah ASI, yang ujungnya akan membuat produksi asi tidak bertambah. Jika terpaksa memberi sufor, perahlah PD setiap kali bayi minum sufor berapapun hasilnya dan selalu berikan waktu untuk bayi menempel pada PD karena hisapan bayi penting untuk merangsang hormon prolaktin yang berperan dalam produksi susu. Aku memerah PD teratur setiap 3 jam demi bertambahnya produksi ASI.

3. Puting lecet
Penyebab perlekatan tidak benar
Meski ASI tidak keluar, perawat menganjurkan untuk tetap menyusui. Masalahnya, baby El, menangis histeris setiap menghisap PD ku, mungkin karena tidak ada air susu yang keluar atau dada yang mengeras ( membuatnya susah memerah) dan proses perlekatan yang terus dirubah. Saat belajar menyusui, setiap kali perlekatan kurang bagus, perawat akan melepas puting dan memintaku untuk mengulangi proses perlekatan. Terang saja hal itu membuat kami berdua frustrasi. Baby El tidak menyusu dengan enak karena selalu diinterupsi, akupun kesakitan karena seringnya mengulang proses perlekatan.

Untuk hal ini, tampaknya banyak ibu baru yang mengalaminya. Belajar perlekatan sebaik mungkin, jika salah, benahi posisi tanpa menarik puting untuk meminimalkan trauma. Dan jika sakitnya masih berlanjut (kasusku-3 bulan baru berhenti rasa sakitnya), inipun pengorbanan yang harus dijalani ibu.

4. Bayi tidak bisa menyusu dengan baik akibat penggunaan dot
El sudah berumur 2 minggu, belum juga fasih menyusu PD, ketika akhirnya aku menyerah menyendokinya susu karena dia makin aktif, dan menggantinya dengan dot. Aku tahu resiko bingung puting pada pemakaian dot, namun keluargaku bilang kalo anak-anak mereka baik-baik saja meski menggunakan dot. Lagi-lagi, aku berkompromi dan tampaknya ini kesalahan fatal.

Ketika kuputuskan menyusui langsung, baby El nempel di PD hingga berjam-jam bahkan pernah semalaman, namun pipisnya masih sedikit. Artinya, dia tidak bisa menyusu dengan baik.

Jika tidak kenal dot, bayi mestinya bisa belajar melekat secara alami dan berjuang memerah ASI dengan cara efektif. Aku melakukan skin to skin contact berhari- hari dan membuang dot, menggantinya dengan calma medela ( yang kupakai hanya jika EL dibawa jalan sama pengasuh), dan menyusui sesering mungkin sampai baby EL sekarang sudah bisa menyusu.

Akhirnya setelah rutin memerah dan menyusui, perjuanganku berbuah manis. Saat ini sudah 4 bulan usia baby El, sudah 2 minggu baby El lepas dari susu formula, dan ASI ku boleh dibilang cukup; baby El sudah tidak gelisah dan menarik puting sambil menangis saat menyusu, dan setiap jam ASI akan mengucur deras jika tidak dihisap.

Untuk para calon ibu, jangan pernah menyerah memberikan yang terbaik untuk bayi kita. ASI adalah yang terbaik, dan yakinlah bahwa ASI kita akan selalu cukup untuknya.

One thought on “Menyusui itu (ga) Gampang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s