Delivered to the World: Our Cutie Lil Boy

Sudah hampir 2 bulan usia baby El, dan setelah melewati masa berat baby blues syndrome, akhirnya aku punya sedikit waktu untuk curcol di web yang jarang kusambangi akhir-akhir ini.

Well, aku sempat menulis draft (2 kali!) tentang lahiran baby El, tapi entah kenapa tak ada di draft wordpressku. Jadi kubuat sesingkat mungkin(yang tetep tidak singkat), kali ini kutulis kronologis terlahirnya jagoan kami ke dunia (capek setelah 2 x nulis 😛 )

Di post sebelumnya aku diresepkan obat pemicu kontraksi yang hanya kuminum dua kali saja dengan dosis separuh. Nampaknya obat itu cukup berhasil memicu kelahiran.

Saat itu Kamis subuh, tak ada perasaan apapun ketika tiba-tiba saja ada cairan tumpah membasahi ranjang, mengusikku yang terlelap. Tak tanggung-tanggung, cairannya banyak dan tiba-tiba, kayak balon berisi air yang meletus. Sontak aku meloncat (lupa kalo sedang hamil besar), dan teriak memanggil suamiku. Posisiku sudah berdiri disamping ranjang, mencegah cairan lebih banyak membasahi ranjang dan masih berusaha mencerna apa yang terjadi, sedang suamiku juga ikut sibuk mencari-cari konterpain (dikiranya aku kraam seperti biasa).

Butuh waktu beberapa saat untuk menyadari bahwa itu bukan ompol, ketika cairan kuning bening itu terus mengucur tanpa bisa ditahan dan kurasakan dengan kakiku. Cairannya memang mirip pipis, hanya teksturnya licin sekali dan terlihat ada sedikit butiran lembut mengambang ( mirip butiran lemak pada santan encer/kaldu). Tanpa sempat mengangkat sprei dan membersihkan lantai yang penuh ceceran ketuban, jam setengah lima pagi itu kamipun berangkat menuju RS dan langsung masuk ruang bersalin.

Jam setengah sembilan pagi, Perut sudah terasa sakit dan intensitasnya bertambah terus. Aku sudah tidak tahan sakitnya dan minta diberi epidural, tapi oleh perawat disana disarankan untuk menunggu, katanya jika ketuban pecah dulu memang sakit, tapi biasanya keluarnya cepat (maksudnya bayinya). Aku juga dilarang berteriak, karena nanti hanya akan membuatku kelelahan saat ngeden. Tapi siapa peduli, sakit begitu tanpa pelepasan emosi rasanya tambah sakit. Dicek bukaan, sudah bukaan 3. Oh ya, rasa sakitnya bukan mules, lebih kayak ada batu gede yang nekan pinggul, rasanya super kemeng ( sampai gemeteran). Bagi yang pernah operasi/ cabut gigi, rasa kemengnya seperti itu tapi sakitnya berkali lipat.

Kata orang sakitnya kontraksi kalo awal bukaan masih selang sejaman, tapi yang kurasakan rasanya tiap 10 menit sudah datang mendera. Ketuban juga terus mengucur, membuat rasa sakit bercampur rasa basah, yang rasanya sangat mengganggu.

Jam 10, sakit makin kerap mendera, aku sudah merasa tidak tahan dan untuk kesekian kalinya aku meminta epidural. Aku memohon-mohon, merasa tidak seorangpun mau mendengarku. Akhirnya, suami setuju dilakukan prosedur anestesi epidural meski perawat bilang pemakaian epidural biasanya berujung pada caesar/vacuum juga ( mengingat efek anestesi yang bikin ibu tidak maksimal mengejannya).

Rasanya lama sekali harus tanda tangan berkas-berkasnya, setelah itu ditambah harus menunggu obsgyn ku dulu untuk diperiksa..padahal lima menit saja menunggu sudah horor banget buatku.

Setelah diperiksa obgyn, dicek bukaan ternyata masih juga belum beranjak dari bukaan 3 (padahal sakitnya udah ampun-ampun), dokter meng iyakan pemakaian epidural, dan menjelaskan bahwa efek epidural bisa berakhir juga di meja operasi. Aku menangkap keraguan, (mungkin obgynku tidak terbiasa melakukan persalinan alami dengan epidural) akhirnya Daripada ujungnya operasi juga, akupun sepakat memilih operasi caesar.

Tak serumit permintaan epidural yang cuma pasang infus anestesi, rasanya persiapan caesar yang melibatkan banyak orang justru jauh lebih mudah ( mungkin karena harga yang jauh lebih mahal juga mempengaruhi)
Jam setengah sebelas lebih sepuluh aku masuk ruang operasi, kontraksi masih terus datang dengan durasi lebih panjang. Aku sempat bilang sama dokter anestesinya yang masih ngobrol sama obgyn dan asistennya’ aduh dok, ini kapan disuntiknya, kok lama banget??’ (Saking ga sabarnya nahan sakit)

Lupakan banyak lelaki disana melihat badanku yang terbuka, saat sakit mendera begitu, yang kupikir hanya kapan ini akan berakhir. Dan setelah melewati prosedur mulai suntik anestesi, rasa ditarik-tarik saat perut dikoyak pisau bedah, akhirnya tepat 11.18, dengan 3 lilitan tali pusar dilehernya, pecahlah suara tangisan yang kunanti-nanti selama 39 minggu.
Moment singkat namun paling berkesan manakala aku menatap mata tajamnya saat tubuh mungil itu ditempelkan di dadaku.

Rafael Lucius Augustian Toly, lahir 20 Agustus 2015 jam 11.18 WIB di RS Mitra Keluarga Waru dengan berat 2,7 kg dan panjang 48 cm.
Rafael berasal dari bahasa ibrani Rephael, menurut tradisi yahudi dan gereja mula-mula (katolik), ia adalah seorang malaikat penyembuh, pelindung orang muda dan perjalanan.
Lucius artinya pembawa cahaya, doa kami nantinya ia akan menjadi penolong, penerang bagi sesama.
Augustian; dilahirkan di bulan agustus, sedang nama Toly merupakan marga ayahnya (suamiku).
Semoga baby El menjadi pembawa kebaikan, inspirasi, bagi sekitarnya dimanapun dan dalam situasi apapun nantinya. Amin.

2 tanggapan untuk “Delivered to the World: Our Cutie Lil Boy”

  1. Selamat ya… wah, ceritanya serupa dengan diriku ketika melahirkan anakku yang pertama, ketuban pecah duluan, diinduksi tetapi tdk ada bukaan jadinya SC deh.. Bisa jadi proses caesar ini karena disesuaikan dengan kemampuanmu terhadap rasa sakit (ada orang yang bisa tahan dengan sakit yang intens banget dan selesai, tetapi ada juga yang tidak begitu tahan dengan sakit yang intens tetapi kuat berlama-lama…) hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s