Usia Kehamilan 33 Minggu ; Test Lab

Lupa menanyakan ke dr. Eston di RS Mitra tentang kaki yang merah, akhirnya berinisiatif menanyakannya ke dokter di Jombang (dr. Rizal Fitni SpOG). Begitu di USG dokter bilang bayinya cukup besar, berkisar 2,5 kilo (secepat itukah besarnya? karena 3 hari sebelumnya hanya 2 koma sekian kilo- asumsiku, ada penyimpangan tertentu dalam tiap alat USG, mungkin berkisar beberapa gram) dan ibunya harus diet jika ingin melahirkan secara alami.

Dokter juga bilang, ukuran janin terlalu besar 3 minggu jika dilihat dari beratnya. Janin dengan berat 2,5 kilo mestinya berumur kisaran 35 minggu, sedang dede’ didalam perutku baru berusia usia 32 minggu (lebih 3 harian).

Karena dokter tidak menyarankan periksa lab ketika kutanya tentang merah-merah di kulitku, akhirnya aku berinisiatip meminta pengantar untuk diperiksa karena jujur aku agak paranoid terkena gula, mengingat papa dan mamaku punya riwayat diabetes. Disamping itu, dengan sadar diri aku memang kelewat batas mengkonsumsi karbo dan gula semenjak hamil 4 bulan.

Dokter memberi pengantar ke lab untuk periksa Urine dan darah, aku minta tambah (lagi) di labnya untuk diperiksa golongan darah beserta rhesusnya, mengingat dulu waktu test SIM petugas di Samsat bilang golongan darahku AB, sedangkan keluargaku banyak bergolongan darah A. Memastikan saja, agar gampang jika terjadi sesuatu, karena golongan darah AB cukup susah dicari (dan ternyata, golongan darahku memang benar AB).

Jam 6.30 Pagi esoknya, setelah puasa +/- 10 jam, aku berangkat ke lab untuk diambil darah dan urine. Prosesnya cukup cepat, dan diminta kembali untuk test gula darah post prandial (sesudah makan) tepat 2 jam setelah makan. Persis 2 jam setelah sarapan besar (seporsi nasi pecel yang banyaknya setara dengan 2 porsi dewasa, dan secangkir kopi torabika choco granule), aku lapor lab untuk tes kedua.

Hasilnya keluar 3 jam kemudian, dan kecemasankupun rasanya terbukti. Hasil test terutama LED (laju endap darah- yang mengindikasikan terjadi peradangan, meningkat 4 kali lipat dari normal, dan gula darah PP ku berada sedikit diatas normal- yang berarti aku masih dalam batas toleransi diabetes dan harus benar menjaga asupan karbo/gula jika tidak ingin terkena diabetes)

Walaupun dari yang kubaca, LED tinggi bisa jadi disebabkan karena kehamilan/ diabetes, namun aku perlu memastikan dengan dokter, apakah LED ku masih bisa dikatakan normal karena kehamilan, atau ada hal lain.

Kondisi fisik minggu ini :
Masih kuat untuk jalan kesana-kemari meski lemas di kaki makin menjadi, aku hanya tidak bisa menghentikannya, inginnya terus gerak. Mungkin karena ingin menikmati detik-detik terakhir bekerja sebelum cuti lahiran. Malahan liburan lebaran ini jalan ke Taman Safari Prigen dan naik turun tangga dengan membawa beban di perut dan bebanku sendiri yang sudah berat ampun-ampunan. Jalanan yang menanjak cukup tinggi tak menghalangiku untuk terus berjalan meski ngos-ngosan dan istirahat sebentar-sebentar. Kupikir, sdikit lagi waktu tersisa untuk liburan bersama suami dan keluarga, karena mungkin setelah ini perhatian dan kesibukan akan tercurah pada si dede’, mungkin sampai beberapa tahun sebelum dia bisa diajak mbolang 😀

Dede’ diperut makin aktif, sodokannya makin berasa dan cukup bikin tidak nyaman. Perut sering terasa kenceng dan keras dan sukses bikin sesak napas saat tidur. Dokter sudah pernah bilang, bahwa mungkin akan berasa kontraksi palsu (brixton hicks) yang rasanya seperti nyeri haid. Sayangnya sampai seumur ini, aku tidak pernah mengalami nyeri haid, jadi ndak tahu seperti apa rasanya kontraksi palsu.

Tapi beberapa waktu kemarin, aku ngalami sakit perut dan BAB yang rasanya melilit setengah mati. Sakitnya hilang timbul 3 sampai 4 kali dengan tempo 1 menitan. Saking sakitnya aku sampai teriak-teriak jam 2 pagi ga peduli tetangga. Aku sempat ketakutan, jangan-jangan mau lahiran karena sakitnya benar-benar bikin pucet, lebih sakit dari sakit perut beberapa waktu lalu. Ini sakit perut ke tiga sejak kandunganku berumur 6 bulanan. Masih tidak jelas apa itu yang disebut kontraksi palsu? yang pasti sakitnya cukup bikin trauma dan was-was.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s