Maafkan, dan Lupakan!

“Mengampuni adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan diri kita dari luka hati.”
Adakalanya kita mengalami sakit hati terhadap orang-orang disekitar kita. Entah ditipu sahabat, dikhianati pacar atau suami, dibohongi berkali-kali, dihina,perlakuan kejam dari orang yang seharusnya menjaga kita, dan begitu banyak hal lain yang dapat melukai hati kita.

Biasanya, semakin dekat relasi kita dengan orang tersebut, semakin kuat rasa sakit itu menghancurkan kita. Ya, kita hancur karena kita telah mempercayai mereka seakan mereka adalah bagian diri kita sendiri. Ya, karena mereka adalah orang terakhir yang kita harapkan akan meninggalkan kita dibanding orang lain. dan Ya, karena kita tak pernah menyangka harapan indah dan pikiran baik kita tentang mereka akan berbuah luka.

Ketika luka itu telah tertoreh begitu dalam di hati, reaksi yang mungkin kita lakukan untuk mengatasinya adalah membenci mereka. Wajarkah hal ini? Oh ya, sebagai manusia biasa, kita mempunyai kewajaran untuk marah. Saat marah, kita menjadi sensitif manakala ada orang lain menyebut nama mereka, Detak jantung kita berdegup keras, muka memerah, dan rasa benci tiba-tiba menjerat kuat dan menghantui sepanjang waktu.

Rasa benci dan marah merusak mood, menghancurkan semangat hidup, membuat air muka kita tidak bersinar, menghantui kita dalam malam-malam seharusnya kita tertidur nyenyak, membuat tubuh kita kurang tidur dan kurang makan yang berujung pada menyakiti diri,dan akhirnya menggerogoti pikiran dan menjadikan kita keras hati.

Betul kawan, membenci dan marah itu wajar bagi manusia. Namun dengan membenci, sebenarnya kita sedang menghancurkan diri kita sendiri.

Jika tidak membenci, reaksi lain yang mungkin kita lakukan adalah bersikap defensif. Kita menghindari berhubungan atau bertemu orang tersebut, bahkan seringnya kita menganggap ia tidak ada di sekitar kita.

Jika kemarahan dan rasa benci membuat kita keras hati, ketidak pedulian membuat hati kita menjadi dingin. Hati yang dingin seperti luka yang dianestesi sementara atau seperti jerawat bandel yang hanya ditutupi concealer. Begitu efek anestesi reda, luka itu masih ada disana dan terasa menyakitkan. Begitu muka kita dicuci, jerawat itu juga masih saja ada. Orang biasa menyebutnya ‘menipu diri sendiri’.

Yang paling sering kita abaikan adalah bahwa apa yang kita perbuat bisa membuat suasana dan lingkungan pergaulan kita menjadi tidak nyaman lagi. Jalinan keakraban menghilang dan itu akan menyebabkan kita semakin kesepian, dan tentunya masih saja sakit!!

Jelaslah dengan membenci dan berpura-pura tidak peduli tidak akan menyembuhkan rasa sakit kita. Lalu, apa sebenarnya yang mampu mengusir sakit yang kita rasakan ini?

Hal paling sederhana, anggaplah kalau kita mencintai diri kita sendiri,jawaban yang paling mungkin adalah memaafkan.

Maaf bukan hal yang mudah dilakukan jika dibandingkan membenci dan marah, namun mempunyai efek menyembuhkan daripada merusak. Dengan maaf, kita membuka jalinan silahturahmi yang terputus, menyehatkan badan karena emosi negatif telah kita usir, memaklumi bahwa kita manusia juga acapkali melakukan salah, yang lebih besar lagi bahwa Tuhan sedang mendidik kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf seperti Dia. Rupanya Dia hendak mengajarkan (menurut saya lho) bahwa kalau kita berjalan seturut jalanNYa, kita pasti sembuh. Bukankah Dia adalah Cinta? tentu kita juga harus juga menanam cinta, maka kita selamat.

Bolehlah kita marah, namun jangan membuatnya berbuah kebencian. Janganlah kita terus memanen buah-buah kebencian itu, karena itu cuma akan menyakiti kita sendiri, terlebih mendatangkan dosa dan kejahatan.

Mari belajar memaafkan dan melupakan, agar Ruh Sang Cinta tinggal dalam hati kita. Jika sulit memaafkan, mintalah rahmat agar kita dimampukan. Percayalah, Dia pasti membantu karena Ia ingin merangkul kita dalam kebaikan dan Cinta. Maafkan orang lain, maka Dia juga akan memaafkan dosa-dosa kita yang sebenarnya tidak terhitung banyaknya dibanding dosa orang yang melukai kita sekali dua itu.

Saya pernah membaca satu ungkapan(maaf, lupa sumbernya) bahwa “Kesalahan itu manusiawi, namun memaafkan itu Ilahi.”
Nah sobat, mari berdamai dengan diri sendiri. Maafkan kesalahan dan Lupakan. Tidak inginkah kita sembuh dan tinggal dalam cinta, selamanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s