7 Hal yang ingin kulakukan sebelum Mati

Bangun pagi-pagi, bekerja, pulang malam, lalu tidur. Bayangkan jika hal itu terjadi terus setiap hari 5 hari seminggu, dengan libur Sabtu Minggu yang kebanyakan buat bersih-bersih rumah atau sedikit jalan-jalan ke Mall. Everyday we do the same numbing routine, berlaku sampai 20 tahun, atau 30 tahun dari sekarang.

Semakin lama kupikir, “inikah yang akan kulakukan tanpa jeda sampai masa pensiun demi mencukupi biaya makan dan tempat tinggal?” Apakah tugasku didunia cuma lahir, hidup, trus mati tanpa ada kenangan apapun selain melakukan pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran tanpa kita sempat bernafas sejenak untuk menikmatinya? 

Well, kita semua butuh pekerjaan untuk makan, tapi kupikir pasti ada cara untuk melakukan yang kita sukai tanpa mengorbankan momen yang kita impikan dan seharusnya kita lalui. Seperti yang ditulis Robert Kiyosaki, aku ingin lolos dari balap tikus kehidupan. Aku ingin mengerjakan hal-hal yang kusukai tanpa khawatir kekurangan tidak terbatas materi, tapi juga momen dan kesenangan dalam hidup. Life should be jubilant, right?

Aku membuat rencana keuangan untuk jangka panjang (tanpa mengencangkan ikat pinggang, yang berujung pada kepelitan), berinteraksi dengan banyak orang sebisa mungkin, mengasah kemampuan dan kepribadian demi tercapainya mimpi-mimpi yang sudah menggelayut berat menunggu waktu untuk realisasi.

Terlepas dari rencana pensiun dini diatas dan prolog pembuka yang panjang plus mungkin juga nggak nyambung, inilah mimpi-mimpi yang semoga bisa kulakukan sebelum mati nanti;

Prioritas utama dimulai dari point teratas.

1. Menikah 😀

Cantik, berwawasan, punya pekerjaan, bisa masak, dan yang penting; ada yang mau 😀 Orang selalu bertanya kenapa aku belum menikah padahal usia sudah kepala 3?  Sejujur-jujurnya, aku ga pengen nikah, tapi pengeen buangeett.  Saat ini masih mencari cara untuk lepas dari phobia pernikahan. Aku juga suka anak-anak dan berharap nanti ada tawa lucu dan petualangan bersama mereka untuk melengkapi hidupku. Tentu juga akan menyenangkan ada teman hidup untuk berbagi cerita

2. Melihat Dunia

Aku ingin menjelajahi dunia, melihat maha karya Tuhan, menjelajahi gunung, laut, danau, melihat bangunan saksi peradaban manusia, mengenal orang-orang baru, mempelajari kultur dan bahasa dari berbagai belahan dunia. Aku tertarik pada manusia, bagaimana mereka berinteraksi dengan sesamanya dengan tata cara yang berbeda dengan yang kita lakukan.

3. Menjadi sukarelawan

HIdup tidak seharusnya melulu melakukan transaksi/pertukaran. Bekerja untuk dibayar, semakin tinggi skill, semakin besar kau dibayar. Ya, aku melatih kemampuanku setiap kali ada kesempatan, tapi lebih dari itu, aku berharap suatu ketika bisa memberi tanpa dibayar selain untuk alasan berbagi dan membantu orang lain.

4. Menjadi pendamping anak-anak muda/remaja

Generasi muda adalah generasi yang rentan diprovokasi hal-hal negatif entah berupa kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas, kekerasan, dsb. Masih segar berita tentang pembunuhan Ade Sara, seorang remaja 19 tahun yang dibunuh teman sekolahnya sendiri, dan fenomena cabe-cabean yang lagi ngetop belakangan ini.

Well, akupun dulunya bukan termasuk pribadi yang alim, namun sukses melaluinya walau dengan sedikit cacat dan kenakalan(bersyukur mampu melewatinya dan belajar banyak dari sana).
Sama kuatnya dengan hal-hal negatif yang meracuni mereka, aku percaya hal-hal positif juga bisa kita tularkan pada mereka sebelum mereka mengulangi kesalahan generasi terdahulu tanpa memposisikan diri sebagai ‘guru’.

5. Aktif dalam kehidupan menggereja.

Lebih 10 tahun menjadi seorang beragama, aku tidak pernah bisa aktif dalam lingkungan kerohanian diluar hari Minggu karena hidupku yang selalu nomaden dan bekerja sepanjang waktu. Dalam jangka pendek, aku ingin menetap, punya tempat tinggal permanen, sehingga bisa mendaftar masuk dan aktif dalam lingkungan/komunitas di gereja. 

6. Memelihara Anjing & Kucing

Siapa bilang anjing dan kucing tidak bisa rukun? Mopi dan Meow dirumahku malahan tidur bersama. Seperti halnya manusia yang berbeda bahasa dan budaya, anjing dan kucing pun seringkali ‘salah paham’ dalam berinteraksi karena bahasa tubuh mereka berbeda. Namun sama seperti pernikahan, memelihara peliharaan itu butuh komitmen jangka panjang.

7. Tinggal di pedalaman

Agak aneh, tapi aku selalu iri dengan orang-orang yang hidupnya lepas dari keterikatan canggihnya dunia. Hidup tanpa handphone, make up, kosmetik pemutih & penghalus kulit, pakaian modis, dan tak perlu galau setengah hidup mikirin jerawat yang timbul atau rambut lepek yang absen dicuci sehari. Hidup berdampingan dengan alam, menghirup asinnya udara pantai, mengumpulkan kerang laut, dan tertawa riang bermain dengan ombak. Melihat tawa polos tanpa tendensi, bukan tawa renyah nan merdu yang dibuat-buat seperti para wanita dalam talk show.

Dan itulah harapanku yang terpatri dalam benak, dan selalu ku-visualisasikan barang sejenak tiap harinya. Tak tahu bagaimana caranya, aku tahu suatu ketika jalan itu terbuka didepanku…

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s