Ketika Pekerjaan Kadang Terasa Menyebalkan….

Percakapan pagi ini antara QQ (anggap saja namanya begitu) dengan si Bos,

Bos : “Tolong pesan Snack almond 3 kotak dan Cake Spekuk besar 1 kotak. jadikan 7 paket.”
QQ : “Ok, berarti 21 kotak snack dan 7 Kotak besar Spekuk ya pak?”
Bos : “Ya, Pastikan juga tamu hari ini dijemput di terminal 2, jam tujuh malem. jangan sampai salah.”
Bos : “Tolong juga, booking VIP room resto DN untuk 15 orang, jam setengah delapan malem. Email menunya ke saya, print juga taruh di meja saya. Jangan sampai salah, tolong ulangi apa yang saya instruksikan tadi.”
QQ : “Bapak minta dipesankan 7 paket isi snack almond 3 kotak plus 1 Spekuk yang besar, Jemput tamu di Terminal 2 jam 19.00, dan booking di DN resto jam 19.30 untuk 15 orang. Email menu dan print menu dari restoran”

Dan diperiksanya coret-coretan cakar ayam didepannya,
Checking list & Koordinasi : Sewa Alphard dan mobil 4 wd sore ini Ok, Shangrilla booked, Resto booked, Email done, Snack Ok.

‘Everything seems to be perfect!’ membatin dan puas πŸ˜€

Sampai 10 menit kemudian telepon berbunyi:

QQ : “Selamat pagi… ” (dengan suara riang, biar kayaknya sudah bosen jadi operator dan terima telepon berkali-kali tiap hari, mulai orang-orang yang nyari pimpinan sampai OB)

Si boss rupanya, tak berpanjang-panjang kata seperti instruksi sebelumnya, kali ini suaranya dingin dan dalam.

Bos : “Tolong dicancel semuanya”

Melongo untuk kesekian kalinya (sudah terjadi berkali-kali tapi kok ya ekspresinya masih kaget)

Dan proses pembalikan pun dimulai lagi… 😦 😦 😦

Well, it happens alot in daily activity.. especially if you work with the boss or people with power (and they can make you lose job easily if you do it wrong)

Sangat menyebalkan ketika kita mempunyai komitmen untuk bekerja dengan benar, lebih cepat dan efektif, karena pimpinan kita orang yang sibuk, dan kita dituntut untuk bekerja lebih cepat (karena tentu mereka tidak senang menunggu), namun tiba-tiba saja semua yang kita kerjakan terasa tidak ada gunanya. 😦

Tapi tentu kita tak serta merta bisa menyalahkan ‘para Boss’, mereka juga seperti kita yang juga mendapat order dari level diatas mereka.

Saat kebanyakan karyawan bilang ‘ Karyawan juga manusia’ , sebenernya berlaku juga untuk para boss. mereka juga sama manusianya. Mungkin mereka juga nggak mau terlihat plin-plan, tapi apa daya, mereka juga masih diperintah. Mereka mungkin juga merasa nggak enak pada para bawahannya karena instruksinya berubah tiap jam. Dan mungkin jugaa, yang bener-bener Top level, juga ga enak sama para bos kita karena reschedule mendadak, mungkin klien penting mereka juga punya kebutuhan mendesak.

dan akhirnya, meski menyebalkan, toh inilah ladang penghasilan yang kita miliki. Jika masih mau dan mampu, lanjutkan dengan sukacita, jika sudah tak sanggup dan tidak nyaman namun ogah beranjak, ya jangan mengeluh.

Seperti Andrea Sachs, tokoh utama dalam film ‘The devil Wears Prada’ yang sangat tertekan karena pekerjaannya (oh by the way, film itu sungguh menarik untuk disimak terutama karena film itu diadaptasi dari novel yang gosipnya merupakan curhatan seorang penulis yang pernah bekerja dengan boss yang super dingin dan kejam), pada akhirnya kita dihadapkan dalam pilihan; Take it, or leave it…..

Dan jangan bilang tidak punya pilihan, karena bahkan memilih untuk tidak memilih juga merupakan pilihan.. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s