Pnompehn; Kejayaan, Kemiskinan, Cerita Suram, dan Segala diantaranya(2)

Killing Fields

Terik matahari dan angin kencang di tanah yang kering berdebu, menyambut saya manakala menginjakkan kaki memasuki Killing Fields-Pnompehn, saksi bisu sejarah kelam rakyat Kamboja.

Killing fields – Terjemahan harafiahnya berarti  ‘ladang Pembantaian’, membentang diatas lahan seluas kira-kira 2,5 Hektar yang benar-benar digunakan sebagai tempat pembantaian dan pembunuhan oleh rezim komunis Kmehr Merah yang dipimpin oleh Pol Pot. Sebelum menjadi kuburan masal ribuan korban, Killing fields, adalah kuburan untuk warga keturunan china di Pnompehn.

Kami para turis, dibekali dengan earphone dengan tombol pemutar untuk mendengarkan sejarah dan lokasi tempat-tempat pebantaian atau kuburan massal yang ditandai dengan nomor-nomor. Namun apa yang saya dengarkan terlalu menyesakkan, sehingga saya tak sanggup mendengarkan keseluruhan kisah tempat itu.

Selama 4 tahun kekuasaan rezim komunis di kamboja, tak kurang dari 2 juta orang meninggal,  tak memandang usia, anak-anak, orang tua, wanita, pria, semua dikumpulkan di kamp-kamp penyiksaan untuk dihabisi dengan keji.  Killing Fields di Pnompehn, adalah salah satu yang terkenal dikalangan para turis.

Tempat itu, menjadi saksi dan kuburan massal, tempat darah ribuan warga tak berdosa tercurah karena kebiadaban rezim penguasa. Mengelilingi lokasi pembantaian, sembari mendengarkan rekaman dari earphone yang saya pakai, rasa haru menyeruak tak tertahan, membuat lidah saya kelu. Lahan luas itu bercerita lebih banyak peristiwa sejarah masa lalu. Disana, tak kurang dari 80 kuburan massal ditemukan. Ribuan tengkorak yang disemayamkan dan pakaian-pakaian bekas para korban yang teronggok dikumpulkan dan tersebar dibeberapa lokasi, menyuarakan kengerian dan penderitaan para korban. Mereka adalah manusia dengan nama, identitas dan keluarga sebelum ditinggalkan mati bersama ratusan jasad lainnya dalam satu lubang besar.

Saya pun dengan rasa pilu mengenang mereka, saat para korban digiring dengan mata tertutup menuju kuburan mereka untuk dieksekusi diiringi musik Kmehr yang diputar keras-keras, anak-anak yang tengkoraknya dipukuli dengan cangkul sampai mati, jerit kengerian para wanita yang diperkosa dan kehilangan anak-anak mereka, dan para intelektual yang disiksa  dengan cara  yang bahkan tidak pernah dibayangkan mampu dilakukan manusia.

Demi menghormati jiwa-jiwa malang itu, kami dilarang memotret, ataupun berbicara keras. Banyak dari wisatawan mancanegara yang datang berkumpul dan berdiri dalam diam, memandang nanar ke tanah-tanah tak rata bekas kuburan ribuan manusia. Beberapa tak kuasa menahan tangis, sebagian besar mendoakan jiwa-jiwa malang yang mati karena ambisi dan kejahatan para penguasa.

Saat ini, seperti juga sejak awal mula sejarah, nampaknya perang dan pertikaian masih menjadi hal favorit para penguasa yang ingin unjuk kebolehan untuk menjadi pemenang, biarpun untuk itu banyak yang akan dikorbankan.

Sejarah masa lalu memang tidak bisa kita ubah, namun pengalaman masa lalu kiranya mampu mengajarkan bagaimana menggunakan hari ini dengan bijak.

5 tanggapan untuk “Pnompehn; Kejayaan, Kemiskinan, Cerita Suram, dan Segala diantaranya(2)”

      1. Menurut saya begitu, atmosfer Tuol Sleng lebih mengerikan daripada Choeung Ek. Tidak berlebihan deh, kalo ke dua tempat itu bikin jiwa lumpuh apalagi kalo orangnya punya rasa empati yang tinggi.

      2. mba Yanti apa tinggal di kamboja? saya baca blognya banyak ulasan tentang kamboja. saya ditawarkan oleh teman lokal disana untuk volunteer (biaya sendiri) ngajar bahasa seminggu dua minggu. apakah aman kira-kira?

      3. Aku di Jakarta, hanya karena ‘fall in love’ sama Kamboja aja jadi bikin blog khusus itu. Blog-ku yang asli di http://ceritariyanti.wordpress.com hehehe… Mengenai volunteering, harusnya sih aman, tergantung tempatnya juga dan hubungan dengan teman lokal disana ya. Ada satu blog yang menurutku bagus karena sudah jelas proses volunteeringnya. Mungkin bisa jadi referensi, Coba cek: http://savongschool.wordpress.com tetapi tempatnya bukan di Phnom Penh melainkan di sekitar Siem Reap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s