Tentang Sahabat…

– You only live once, but if you do it right, once is enough –
Mae West
Z Amin

Pagi itu 11 Oktober seperti pagi biasanya, aku hanya mengulangi rutinitas pekerjaan yang mulai terasa membosankan. Checking email, menghitung laporan kas kecil, menyiapkan dokumen yang akan dikirim sambil membuka akun jejaring sosial lewat tablet pribadiku.

Saat sejenak rehat, sambil menyeruput teh hangat aku mulai menjelajahi aktivitas teman-temanku di dunia maya. Aku tersenyum kecil manakala melihat status lucu beberapa teman lama, kadang berkerut karena bosan dengan salah satu status teman yang tiap hari curhat karena galau jika hartanya diambil calon istrinya kelak. Namun hatiku serasa berhenti berdetak untuk beberapa saat manakala aku membaca status teman-teman lamaku yang diposting di wall Zefanya Amin, yang merupakan teman lama sewaktu aku bekerja di perusahaan futures.

Dulu kami memanggilnya ‘Om Amin’.
Aku mengenalnya delapan tahun lalu, saat aku masih terhitung anak baru di salah satu perusahaan Futures. Saat itu aku baru menyelesaikan sidang skripsi dan ditarik untuk menjadi karyawan di perusahaan tersebut.

Dia seorang yang suka berbagi cerita dengan kami, sharing pengalaman dan ilmu teknikal analisisnya yang menurutku bisa dipercaya (namun tidak pernah kami dengarkan). Satu hal yang paling kuingat disuatu malam di kantor menjelang gathering ke Tretes, dia mengatakan grafik teknikal analisis yen menunjukkan pola triangle, Yen (Mata uang Jepang) akan jatuh (menguat). Kami yang saat itu sedang euforia karena berita bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga ditambah dengan pengetahuan pas-pasan tentang pasar modal, rata-rata mengambil posisi buy (berharap Yen melemah) dan tidak terlalu mempedulikan analisanya.

Jumat malam itu kamipun bersenang-senang semalaman sebelum melanjutkan gathering dan berlibur ke Tretes. Dan terjadilah ramalan tersebut, Senin malam sesaat setelah pengumuman kenaikan suku bunga The Fed, Yen kustru menguat. Selama seminggu kami semua menangis kehilangan uang nasabah kami begitu banyak. Dan dialah yang setia menemani dan menghibur kami semua yang saat itu hampir setiap malam menginap di kantor.

Sedikit menyedihkan bahwa aku tidak tahu banyak tentangnya dan kehidupan pribadinya, bagaimana seorang yang masih berdarah Arab baru-baru ini menyandang nama Gerungan di belakang namanya, dan aku bahkan tidak pernah bertanya lebih jauh apakah dia pernah menikah atau tidak.

Aku hanya mengingatnya sebagai seorang yang baik, perhatian kepada teman-temannya, suka menolong, selalu bercanda, dan terpenting yang selalu kuingat bahwa dia juga sering tak tega dan berani membantuku ‘membalaskan dendam’ pada teman kantor yang usil minta ampun dan suka sekali menggodaku.

Kecintaannya pada Tuhan juga merupakan hal yang menarik dimataku, dia melayani dengan kepolosan seorang anak kecil. Meski kami berbeda, dia selalu menghormati prinsip-prinsip yang kupegang dan tidak pernah menjadikannya masalah, bahkan dengan keluarga besarnya sendiri yang cenderung mengucilkan dia karena apa yang dia percaya. Dia menyatakan kecintaannya pada Tuhan lewat statusnya setiap hari dan perbuatan-perbuatannya selama aku mengenalnya.

Dia juga seorang paman yang bangga karena telah mengantarkan keponakannya yang diwisuda di ITS dengan predikat Cum Laude, sebulan sebelum kepergiannya.

Salah seorang temanku mengatakan dia meninggal terkena serangan jantung, pada saat menghadiri ibadah malam di gerejanya. Dia berpulang di usia yang masih tergolong muda. Sayang, kami semua tidak sempat memberikan penghormatan terakhir mengingat dia dimakamkan pagi itu juga di kota kelahirannya sesuai dengan kepercayaan yang dianut seluruh anggota keluarga besarnya.

Pagi itu kusempatkan menelusuri satu persatu ucapan duka dari teman-temannya, aku melihat bahwa semua orang berbagi pengalaman personal mereka saat bersamanya. Seperti mereka, aku juga merasa sangat kehilangan.
meski 8 tahun terlewat sejak mengenalnya, aku sendiri masih saling mengirim pesan dan menanyakan kabar, bahkan merencakanan untuk reuni kecil-kecilan.

Semakin turun kebawah, mataku tertumbuk pada status pribadinya sebelum dia meninggal. Aku tercekat melihat status yang dia tulis, yang terpampang di halaman Facebook-nya jauh dibawah tumpukan ungkapan belasungkawa teman-temannya.

“Puji syukur atas berkat dan anugrahMu…atas hidup yg msh Engkau karuniakan bagiku…Tuhan Jesus….aku mengasihiMu..aku mencintaiMu…”

Mataku terasa panas membaca ucapan syukur yang begitu indah, aku terbayang wajahnya yang selalu kuingat, wajah yang memandangku dengan tersenyum dengan tatapan khasnya. Kami semua mencintainya sebagai teman, mentor, dan saudara.

Itulah status terakhirmu, sahabat…
Perjalananmu didunia telah selesai, tugasmu telah kau tunaikan, dan engkau telah mengakhirinya dengan sungguh baik. Aku percaya, di gerbang surga Dia menyambut dan merentangkan tangan memelukmu.
Bahagialah disana, di suatu tempat dimana tak ada tangis dan airmata.
Suatu tempat dimana hanya kebahagiaan yang abadi..
Kami akan selalu merindukanmu, sampai waktunya kita dipertemukan kembali di kemah abadi.

Rest In Peace Zefanya Amin Gerungan…

One thought on “Tentang Sahabat…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s