Perlukah Kita Membeli Asuransi?

Maraknya produk-produk asuransi di Indonesia dewasa ini nampaknya tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat akan produk itu sendiri. Banyak sekali kita jumpai di media massa para customer yang tidak puas karena merasa telah diberikan janji-janji manis oleh agen asuransi. Contoh yang paling menarik perhatian publik saat ini adalah peristiwa Dul (anak artis papan atas- Ahmad Dani) yang mendapat kecelakaan, namun proses klaim tidak dapat dilakukan oleh pihak asuransi karena alasan hukum.

Nah, terlepas dari klausul-klausul yang wajib menjadi perhatian dan dimengerti calon pembeli polis, sebenarnya, seberapa penting asuransi bagi kita? Asuransi apa yang hendaknya harus kita ambil? Dan yang terutama, apakah asuransi itu cukup menutup kebutuhan kita jika suatu saat dibutuhkan?

Pentingkah asuransi bagi saya??
Pernah suatu ketika lebih sepuluh tahun lalu saya mengalami kecelakaan yang cukup parah dan mengalami gegar otak sehingga harus dirawat di rumah sakit, dimana yang saya tahu saat itu biaya untuk 2 hari saja mencapai hampir 6 juta rupiah. Saat itu saya merasakan begitu beratnya biaya rumah sakit, dan begitu mahalnya biaya obat-obatan yang saya konsumsi. Saya sedih, merasakan begitu beratnya kakak saya bekerja dan mengumpulkan sedikit demi sedikit, namun kemudian harus begitu saja ‘hilang’ untuk membayar biaya pengobatan saya. Hal yang sama terjadi manakala papa saya harus keluar masuk rumah sakit selama 3 bulan sebelum meninggalnya. Keluarga kami kelelahan secara fisik dan juga tertekan karena membengkaknya biaya rumah sakit.

Dari sanalah kesadaran saya tergugah, banyak sekali manusia yang berpikir seperti saya dulu, bahwa dirinya tidak mungkin akan mengalami resiko-resiko seperti yang saya alami, sehingga saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka tidak siap menanggung resiko yang ada. Patut disadari bersama bahwa setiap manusia dalam hidupnya pastilah mengalami sakit, tua dan mati. Mungkin ada sebagian kecil manusia yang tidak mengalami sakit sampai parah dalam hidupnya, tetap saja kematian bagi mereka sama mutlaknya dengan kita. Hal tersebut bisa dikatakan merupakan resiko hidup.

Ada resiko yang bisa kita minimalkan, ada juga resiko yang tidak bisa kita hindari. Dan setiap resiko yang terjadi pada akhirnya memunculkan biaya. Disinilah asuransi kita perlukan untuk mentransfer resiko finansial yang mungkin terjadi disaat kita hidup/meninggal. Asuransi jiwa tentu tidak bisa mengganti jiwa yang terlanjur berpulang, tidak bisa mengganti kesedihan keluarga yang ditinggalkan, tapi asuransi jiwa bisa mengcover kesulitan keuangan yang mungkin terjadi bagi pihak yang ditinggalkan.

Asuransi apa yang paling sesuai untuk saya?
Yang pertama harus anda evaluasi, tanyakan pada diri anda apa kerugian finansial yang mungkin timbul jika terjadi resiko sewaktu-waktu pada diri anda. Kerugian ini bisa berarti untuk anda, ataupun orang-orang yang anda tinggalkan. Jika anda tulang punggung keluarga, pikirkan keadaan yang mungkin timbul jika anda tidak bisa lagi menanggung keluarga.

Kebutuhan setiap individu tidaklah sama, seorang istri yang tidak bekerja misalnya, secara finansial kelangsungan hidupnya akan terancam karena terputusnya aliran dana saat sang suami meninggal jika sang suami tidak mempunyai asuransi jiwa. demikian pula dengan karyawan yang dalam pekerjaannya mesti menggunakan alat-alat berat yang mungkin bisa membahayakan keadaannya. Seorang bayi tentu tidak membutuhkan asuransi jiwa mengingat masa hidupnya masih sangat panjang, dan secara FINANSIAL TIDAK ADA KERUGIAN langsung yang berdampak pada kelangsungan hidup anggota keluarga lainnya.

Apakah asuransi ini cukup untuk saya?
Untuk menghitungnya, hendaknya kita pertimbangkan berapa manfaat yang diperoleh dari asuransi tersebut, apakah sepadan dengan standar kelayakan hidup anda? Misalkan jika seseorang menghidupi keluarga secara layak dengan pengeluaran tiap bulannya mencapai 3 juta, hendaknya nilai pertanggungan asuransi jiwanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga senilai tersebut untuk beberapa lama tergantung dari kondisi – kondisi yang ada (apakah berkeluarga dengan anak-anak masih kecil dengan pendidikan masih panjang, kemampuan istri untuk survive, dll)

Prinsip utama asuransi adalah mentransfer resiko yang mungkin timbul saat kita menderita suatu kerugian entah sakit, kehilangan atau meninggal. Asuransi bukanlah investasi, karena prinsip keduanya berbeda.

Investasi digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan finansial dimasa depan dengan imbal hasil/keuntungan tertentu yang diharapkan. Jadi sungguh tidak tepat jika kita berharap keuntungan dari asuransi karena asuransi akan lebih tepat guna untuk proteksi.

Terasa aneh saat kita berharap keuntungan dari sakit/meninggalnya seseorang, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s